Antara Fiksi dan Fakta, Antara Imajinasi dan Kenyataan
komentar
Istri saya mendadak uring-uringan. Semuanya lantaran sebuah cerpen yang saya tulis dan share di facebook dan blog pribadi. Ceritanya sederhana saja. Tentang tokoh aku yang begitu memuja seorang gadis sampai mati.
Sebuah sms mampir di handphone saya. Isinya singkat. "Cerpenmu bagus sekali, tapi itu buat hatiku sakit. Kamu selingkuh!"
Deg, alamat bakalan perang dunia nih! Sayapun hanya menjawab pendek. "Kenapa harus sakit, ini kan hanya sebatas fiksi?"
Tapi sepertinya istri saya tidak bisa menerima pembelaan sederhana ini. Dia tak lagi menjawab sms saya. Bahkan tak mau mengangkat handphonenya.
Saya hanya bisa menghembuskan nafas panjang.
***
Pernahkah Anda mengalami masalah seperti yang saya alami?
Terkadang pertikaian timbul karena orang sulit membedakan antara fiksi dan fakta. Bayangkan saja, istri saya bisa saja ngomel kiri kanan lantaran melihat sinetron di televisi. Atau ikut-ikutan tegang menyaksikan reality show yang sebenarnya sudah direkayasa.
Memang saya sungguh salut dengan para sutradara yang mampu memanipulasi perasaan orang. Saya acungi jempol bagi para aktor dan aktris yang bisa mengguncang emosi penonton. Hal yang sama juga saya tujukan kepada para penulis, novelis, dan sastrawan yang mampu menghasilkan karya fiksi seolah benar-benar nyata.
Seorang cerpenis kondang, Seno Gumira Ajidarma, bahkan pernah menyindir pemerintah orde baru yang terlalu sensitif dengan membredel karya-karya fiksi, seperti novel, teater, film, lagu, tarian, dan buku hanya karena memiliki paham yang berseberangan. Padahal semuanya itu hanya imajinasi dan bukan kenyataan sebenarnya.
Manusia memang memiliki perasaan halus dan imajinasi yang luar biasa. Saking hebatnya, bisa saja semua menjadi terbolak balik. Kisah fiksi dianggap nyata. Peristiwa fakta justru menjadi maya lantaran imajinasi berlebih.
Sang Penggoda Indonesia, Prie GS, dalam sebuah acara di Radio mencurahkan kegelisahannya terhadap sang istri yang berimajinasi keterlaluan. "Masak hanya karena kumis saya sama dengan kumis Antasari Ashar (mantan ketua KPK yang terkena kasus pembunuhan), istri saya membayangkan jangan-jangan nasib saya juga bakalan sama. Kalau nasibnya sama, jangan-jangan kelakuannya juga sama..."
Begitulah manusia. Fiksi dan fakta menjadi begitu samar. Imajinasi dan kenyataan nyaris tak berbatas. Sampai-sampai sayapun meragukan berita di televisi sebagai peristiwa nyata. Masak ada pegawai negeri golongan 3A bisa punya rumah mewah di kawasan Kelapa Gading, beberapa apartemen di Singapura, dan simpanan lebih dari 25 milyar. Sementara saya sendiri yang bekerja mati-matian sebelas tahun di bank swasta nasional hingga menjabat Assistant Vice President cuma memiliki rumah sederhana di pinggiran Jakarta.
Sekali lagi, apakah ini sebuah impian atau kenyataan? Susah dibedakan dan sulit diterangkan.
Jadi, jika saat ini Anda dihadapkan pada dua pilihan berikut ini, kira-kira mana yang dipilih? Pilihan pertama adalah merelakan diri Anda hanyut dalam gelombang kehidupan maya dan nyata yang tak berbatas. Atau pilihan kedua yang meniru Chairil Anwar dengan berjaga terus di garis batas kenyataan dan impian.*
Semuanya terserah pilihan Anda.
***
Kembali lagi ke kasus cerita pendek saya diatas. Sebenarnya ini adalah peristiwa yang lumrah terjadi. Seorang isteri bisa jadi cemburu terhadap tokoh fiksi dalam cerita yang dibuat pasangannya. Bahkan penulis sekaliber Arswendo Atmowiloto juga pernah curhat tentang isterinya. Seingat saya mantan Pemimpin Redaksi Tabloid Monitor itu pernah berujar,"Isteri saya cemburu setiap kali saya membuat cerita tentang wanita, sebab dia menyangka bahwa saya sedang jatuh cinta dengan wanita lain."
Begitulah. Imajinasi memang bisa melampaui segalanya.
Lalu, apakah saya bisa disebut sebagai penulis cerpen yang berhasil, hanya lantaran mampu membuat perasaan istri saya teraduk-aduk, sehingga menganggap karya fiksi ini sebagai fakta?
Biarlah istri saya saja yang menjawabnya. Yang jelas malam ini saya harus menyiapkan beragam jawaban untuk menangkis cecaran pertanyaan isteri saya perihal cerita pendek itu. Terserah dia apakah alasan fiksi atau fakta yang nantinya dia percaya. Atau jangan-jangan dia tak lagi mempercayai semua alasan saya.
Gawat!
______________________________________
Catatan :
* Chairil Anwar, seorang sastrawan angkatan 45, menulis sebuah sajak yang sangat legendaris yaitu Kerawang Bekasi. Salah satu kalimat yang terkenal dalam sajak itu adalah berjagalah terus di garis batas kenyataan dan impian.
Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer


