Pentingnya Keimanan dalam Arus Global
komentar
Hidup manusia dimulai dari masa di dalam kandungan, setelah lahir baru kita merasakan hidup di dunia. Sebenarnya siapakah yang mencipatakan dunia yang kita tinggali sekarang ini? Bagi kita yang beragama pastilah tahu siapa yang menciptakan bumi dan langit. Namun bagaimana dengan mereka yang atheis? Tidakkah mereka pernah berpikir siapa yang menciptakan ini semua? Apakah mereka tak memiliki suatu kepercayaan kepada tuhan yang disebut sebagai iman?
Dalam islam, ada yang namanya rukun iman. Yang berisi: (1.) Iman kepada Allah (2.) Iman kepada malaikat Allah (3.) Iman kepada kitab Allah (4.) Iman kepada Rasul Allah (5.) Iman kepada hari kiamat (6.) Iman kepada takdir Allah. Iman menurut bahasa artinya percaya, sedangkan menurut istilah artinya diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan.
Pengamalan iman sebagai perbuatan ini dapat kita peroleh dari novel karya Wiwid Prasetyo Nak, Maafkan Ibu Tak Mampu Menyekolahkanmu. Wak Bajo sebagai tokoh utama bersama anaknya Wenas benar-benar mengaplikasikan iman dalam kehidupan sehari-hari. Mereka sadar bahwa tugas manusia hanyalah berusaha. Sedangkan hasil ada ditangan Allah. Setiap hari mereka sholat bergantian karena mereka hanya memiliki satu mukena yang sudah sobek disana sini untuk dipakai berdua.
Ada dua golongan buruk manusia dalam hal keimanan, ada manusia yang kala susah baru beriman dan ada juga manusia yang saat kaya beriman, namun setelah jatuh miskin menjadi tidak beriman. Inilah gambaran kehidupan manusia yang selalu berputar, tinggal bagaimana sikap mereka menanggapi cobaan dalam hidup.
Wenas dan Wak Bajo tidak masuk dalam kedua golongan buruk tersebut, karena mereka tetap beriman dikala susah maupun senang. Hal inilah yang sulit untuk dilakukan, namun ternyata mereka bisa melakukannya. Jadi, kenapa kita tidak mencoba untuk menjadi seperti mereka? Keimanan merupakan hal mutlak yang harus dimiliki manusia, karena di zaman yang semakin modern ini banyak manusia yang tersesat dalam arus global yang tidak sehat.
Manusia di zaman sekarang dituntut untuk bersaing di dunia yang semakin kompetitif. Bagi mereka yang tidak kuat imannnya pasti akan mudah putus asa. Putus asa bisa menyebabkan berbagai masalah di dunia. Seperti kasus bunuh diri dan tingkat kriminalitas yang tinggi.
Uniknya, Wiwid Prasetyo berhasil menciptakan tokoh Wenas, seorang anak yang tak mudah putus asa. Diiringi doa dari ibunya dan tentunya usaha yang keras ia berhasil memperoleh apa yang ia inginkan yakni bersekolah. Bahkan akhirnya ia mampu membuka kesempatan kepada anak-anak tak mampu lainnya karena Pak Raga membuka sekolah kolong jembatan. Melalui sekolah ini Wenas menunjukkan prestasinya yang membanggakan.
Wenas tidak hanya cerdas, namun juga beriman. Diusianya yang masih muda, keimanan sudah tumbuh mengakar di jiwanya. Ini berkat asuhan ibunya, Wak Bajo. Walaupun ia tak mampu menyekolahkan Wenas, ia telah memberi pendidikan yang penting yakni pendidikan agama. Wenas dan Wak Bajo tetap bersyukur walaupun hidup dalam kekurangan, mereka percaya bahwa Allah yang mengatur semuanya.
Keimanan yang patut dicontoh dan diteladani bagi kita semua. Rasanya rasa syukur amat jauh dari kehidupan manusia modern. Kita selalu kekurangan walaupun sudah diberi limpahan rizki oleh Allah. Hal ini patut dihindari, karena hilangnya rasa syukur bisa menghapus sidikit demi sedikit keimanan kita dan akhirnya tak ada lagi keimanan yang tersisa. Keimanan bisa terus dijaga dengan melaksanakan perintah-perintahnya. Dengan melaksanakan kewajiban kita otomatis kita akan mengingat siapa yang memberi kewajiban dan percaya apa yang diperintahkannya adalah suatu kebaikan.
Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer


