Anak Jalanan, Siapa Orang Tua Kalian?

  komentar


Anak-anak adalah anugerah terindah dalam kehidupan keluarga. Anak adalah permata hati orang tua sehingga kasih sayang orang tua ditumpahkan dengan sepenuh hati kepada mereka. Kasih sayang, perhatian, perlindungan, pendidikan, pengarahan, dan pemenuhan kebutuhan seorang anak merupakan tanggung jawab dari orang dewasa. Karena anak-anak masih lemah dalam melakukan semua tanggung jawab tersebut. Kebutuhan seorang anak biasanya diberikan secara penuh dari orang tua mereka. Aktifitas anak selalu berada dalam perlindungan orang tua. Tetapi bagaimana menurut anda jika seorang anak harus memenuhi segala kebutuhan hidupnya sendiri, bahkan mereka di tuntut untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Tugas berat orang dewasa ditanggung oleh mereka. Seorang anak yang seharusnya banyak belajar dan bermain, tetapi mereka harus banyak menghabiskan waktu untuk mencari uang untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Fakta seputar kehidupan anak jalanan banyak menjelaskan sesuatu fase kehidupan manusia yang dilalui dengan tidak normal. Bukankah seharusnya manusia tumbuh dan berkembang melalui fase fisik dan psikologis yang bertahap. Dari sejak lahir sebagai bayi tumbuh sebagai anak kemudian berkembang sebagai remaja dan akhirnya sebagai orang dewasa dan kemudian menutupnya sebagai manula?. Aktifitas manusia sesuai dengan fase pertumbuhan mereka secara fisik dan psikologis. Tidak mungkin menuntut seorang anak usia 5 tahun untuk memahami rumus fisika quantum. Mustahil secara logika memaksa seorang anak 6 tahun untuk memikul beban berat seukuran 30 kg setiap hari. Sangat tidak masuk akan seorang anak usia 7 tahun dapat menghidupi kebutuhan ekonomi satu keluarga. Berbagai aktivitas tersebut tidak dapat dilakukan oleh seorang anak kecil yang secara fisik dan psikologis hanya mampu belajar tentang kehidupan melalui fase bermain. Tapi irasionalitas tersebut terjadi pada kehidupan anak jalanan.

Tetapi kenapa kita masih sering melihat banyak anak-anak kecil berkeliaran di jalan pada siang yang trik dan malam yang dingin dengan tubuh kurus tidak terurus. Sering kita mendengar tentang kejahatan terhadap mereka anak-anak jalanan. Mulai dari kasus kekerasan fisik, kasus penculikan, kejahatan seksual sampai pembunuhan. Siapa yang bertanggungawab untuk keselamatan mereka. Jangan berbicara pemenuhan kebutuhan ideal seorang anak kepada mereka. Pertanyaannya adalah, siapa yang harus bertanggungjawab untuk keselamatan mereka?. Begitu banyak tangan jahat dan hati busuk yang siap melahap mereka. Kemana orang tua kalian?. Kalian bukan sampah, kalian manusia seperti kita semua. Kemana orang tua kalian?. Siapa yang bertanggung jawab untuk kalian semua para malaikat kecil yang kusam.

Anak jalanan ada di mana-mana. Mereka adalah bagian dari diorama kehidupan kota. Kita semua sering meihat mereka di tepi jalan, di kolong jembatan, di dekat lampu merah, di terminal bus, dan mungkin yang paling sering adalah di dalam kendaraan umum.

Siapa mereka?

Pada dasarnya anak jalanan adalah anak-anak berusia 6 sampai 18 tahun yang turun ke jalan untuk bekerja. Kebayangkan betapa sulitnya memperoleh uang di kota? Apalagi bagi anak jalanan yang usianya masih terlalu muda untuk bekerja. Kita semua tentunya juga sering melihat anak jalanan yang masih usia balita (bawah lima tahun) mengamen dan mengemis di pinggir jalan.

Kegiatan sehari-hari anak jalanan

Segala pekerjaan bisa dilakukan oleh anak jalanan asalkan menghasilkan uang untuk makan, seperti mengamen, mengemis, menyemir sepatu, menjadi kuli panggul, dan menjadi pemulung. Penghasilan anak jalanan setiap hari berkisar Rp 30.000 sampai Rp 50.000.

Uang yang mereka peroleh biasanya digunakan untuk membeli makan dan memenuhi kebutuhan mereka yang lain, seperti membayar uang sekolah. Selain bekerja, ada beberapa anak jalanan yang masih melanjutkan sekolahnya.

Biasanya mereka turun ke jalan setelah pulang sekolah. Meskipun hidup di jalan, satu hal yang patut kita hargai adalah keinginan mereka untuk menyelesaikan sekolah. Hal tersebut ternyata tidak mudah. Mereka harus berjuang mempertahankan keinginannya bersekolah, sementara di sekeliling mereka ada banyak anak jalanan yang meninggalkan bangku sekolah dan lebih memilih untuk bekerja.

Bekerja vs bermain

Kita mungkin pernah berpikir bahwa anak jalanan adalah anak-anak yang kehilangan masa kecilnya. ”Bagaimana mungkin bisa bermain jika setiap hari mereka harus bekerja?” Itulah salah satu komentar yang sering didengar ketika berdialog dengan mereka.

Benarkah itu?

Anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Meskipun harus bekerja, anak jalanan tetap bisa tertawa dan bermain bersama teman-teman seusia mereka. Hanya saja, mereka menjalani masa kecil di tempat yang ”tidak biasa”, yaitu jalanan.

Cita-cita mereka

Suatu pengalaman yang enggak akan pernah dilupakan ketika berdialog dengan anak jalanan adalah saat mereka menceritakan semua harapan dan cita-cita dengan begitu lancar.

Seperti anak-anak kebanyakan, mereka juga punya cita-cita ingin menjadi guru, polisi, bahkan artis! Alasan mereka memilih profesi tersebut sangatlah sederhana: biar bisa membantu orang lain dan dapat uang banyak.

Nah, setelah mendengar kisah anak jalanan tersebut, kini giliran kita untuk membantu mereka. Ada berbagai macam cara untuk ngeringanin beban hidup anak jalanan, salah satunya adalah dengan menyumbangkan buku-buku layak baca kepada mereka serta sedikit perduli dengan kebutuhan mereka.

Sesederhana apa pun yang kita lakukan untuk anak jalanan, hal itu sangat berarti untuk mereka!.





Ripiu comments powered by Disqus



Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer