Asmaragama, WANITA IDEAL dalam Budaya Jawa
komentar
Karya sastra dalam budaya Jawa (jika boleh dianggap karya sastra) yang sering menarik untuk dibahas adalah Serat Chentini dan Asmaragama. Ciri ideal perempuan ideal ditemukan dalam bagian Serat candraning wanita adalah memiliki ciri ideal tersendiri, seperti yang teruarai di bawah ini:
Merica pecah-butiran merica pecah
Perempuan digambarkan dengan badan ramping, padat, kulit putih dengan payudara montok.
Wanita seperti ini memiliki kemampuan akan mudah diterima pasangan yang berkedudukan tinggi karena kemampuannya dalam mendampingi suami dalam berbagai kesempatan sekaligus kemampuannya untuk menutup mulut dan menjaga kehormatan suami.
Surya sumurup-matahari tenggelam
Bagaikan semburat jingga ketika matahari tenggelam di langit.
Ciri perempuan seperti ini mempunyai fisik dengan bibir merah jambu dengan sorot mata kebiruan. Rambut di dahi (bila tidak ditutupi poni) dan memiliki alis melengkung indah seperti bulan sabit.
Selain unggul dalam fisik dan kesetiaan, perempuan seperti ini mampu memberikan perlawanan yang berarti dalam urusan asmara.
Menjangan (macan)-kijang (harimau) tertawan
Perempuan seperti ini memiliki sifat yang siap dan akan selalu memberikan perlawanan yang pas bagi pasangannya sehingga pasangan tidak akan merasa bosan untuk bersanding dengannya.
Secara fisik, perempuan seperti ini memiliki wajah ceria, mata terbuka lebar, dan terlihat bersemangat, kulit bercahaya, memiliki sifat yang keras, murah hati dan selalu menolong. Secara fisik tergolong agak besar meski tidak berarti tegap.
Pada kenyataannya kerap perempuan tidak memiliki fisik salah satu ciri di atas namun merupakan campuran dari ciri di atas.
Ya, begitulah ciri perempuan ideal dalam budaya Jawa. Wanita ideal seperti itulah yang dulu layak menjadi pendamping para kaum ningrat. Kita ketahui, kaum ningrat kerap merasa mempunyai kedudukan tersendiri.
Seiring dengan berkembangnya jaman, meski seseorang turunan ningrat atau bangsawan, namun tanpa diiringi oleh tingkat ekonomi yang mapan, maka perlakuan masyarakat tidak ubahnya dengan masyarakat biasa. Ya, namanya juga masyarakat! Kita tak mungkin bukan memaksakan masyarakat dalam menilai sesuatu!
Sumber: http://id.shvoong.com/bookc-classic-literature/1968380-asmaragama-wanita-ideal-dalam-budaya-jawa/
Sumber gambar: unisma99.co.cc
Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer


