Bahaya Penggunaan Obat Pereda Nyeri Secara Berlebihan
komentarBiasanya saat kita mengalami gejala nyeri seperti sakit kepala, kita langsung mencari obat pereda sakit kepala yang banyak beredar di pasaran dan tanpa berkonsultasi terlebih dahulu kepada ahlinya, padahal jika belum sempat atau bahkan tidak sempat berkonsultasi dengan dokter, penanganan gejala tersebut masih bisa diatasi cukup dengan beristirahat saja, namun terkadang banyak orang yang ingin sakit kepalanya hilang secara instan dan mengabaikan efek samping dari penggunaan obat pereda nyeri yang ternyata jika digunakan dalam jangka panjang dan secara berlebihan, akan merusak beberapa bagian organ tubuh manusia seperti : kerusakan pada hati, lambung, usus dan sebagainya.
Obat pereda nyeri sebetulnya hanya berfungsi menghilangkan gejala. Rematik misalnya, dalam menangani gejala nyeri rematik sebaiknya berhati-hati dan bertanya kepada ahlinya bagaimana penanganan yang tepat, karena jika hanya mengandalkan obat pereda nyeri saja akan menimbulkan efek samping terhadap lambung. jadi jangan sampai gejala rematik mereda namun lambung bermasalah.
Penggunaan obat pereda nyeri mendapat perhatian dari pemerintah Amerika, karena di negara itu jumlah penderitanya cukup besar, yaitu menduduki peringkat ketiga penyebab kematian di rumah sakit. Penjualan obatnya pun mencapai angka 3 triliun per tahun. Selain itu dikabarkan pula bahwa obat pereda nyeri ini juga dapat menyebabkan stroke bagi pemakainya.Masyarakat diingatkan untuk hati-hati mengonsumsi obat pereda nyeri jenis NSAIDs dan Cox-2 seperti Diclofenac, Ketorolac, Meloxicam dan celecoxib, karena terbukti berisiko tinggi terkena kardiovaskuler -- penyakit yang berhubungan dengan gangguan pembuluh darah seperti jantung dan stroke. Di Amerika, obat-obat tersebut ditahan peredarannya sementara untuk penggantian label peringatannya.Peringatan itu disampaikan dr Irawan Rustandi, Direktur Medis PT Pfizer Indonesia ( produsen obat pereda nyeri bernama Valdecoxib) terkait dengan larangan peredaran sementara obat pereda nyeri oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika (USFDA).
selain itu menurut seorang pakar rematik, Harry Isbagio menjelaskan selama ini semua obat pereda nyeri memiliki efek samping terhadap lambung dan kulit. Jika dipergunakan lama hingga 18 bulan, obat-obat semacam itu bisa melubangi usus lambung dan gangguan kulit yang cukup parah berupa bercak merah di sekujur tubuh. "Berkat teknologi terbaru, obat-obat pereda nyeri jenis terbaru golongan Celecoxib ini memang mampu meminimalisasi kerusakan pada lambung dan kulit. Namun, efek sampingnya tidak lagi ke lambung, tetapi menganggu sistem kerja pembuluh darah yang bisa menyembabkan jantung dan stroke," katanya.Penggunaan obat pereda nyeri mendapat perhatian dari pemerintah Amerika, karena di negara itu jumlah penderitanya cukup besar yaitu menduduki peringkat ketiga penyebab kematian di rumah sakit. Penjualan obatnya pun mencapai angka 3 triliun per tahun.Karena itu, peringatan tentang efek samping terkena kardiovasculer ini penting diketahui masyarakat karena banyak masyarakat yang menggunakan obat-obat pereda nyeri terus menerus dan secara berlebihan, tanpa berkonsultasi lagi dengan dokternya.
Jadi, dapat disimpulkan jika kita merasakan gejala sakit dan belum sempat berkonsultasi dengan dokter ahli, maka beristirahatlah terlebih dahulu dengan cukup dan sebaiknya hindari penggunaan obat pereda nyeri tanpa dosis yang dianjurkan dokter.
Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer


