Biografi Pramoedya Ananta Toer
komentar
Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora tanggal 2 Februari 1925. Sangat produktif menulis cerpen, roman, esai maupun kritik.
Romannya yang berjudul Perburuan (1950), mendapat hadiah dalam sayembara mengarang yang diselenggarakan oleh Balai Pustaka. Cerita dari Blora, mendapat hadiah sastra Nasional BMKN tahun 1952.
Mulai menulis sejak jaman Jepang, novelnya yang pertama, Kranji dan Bekasi Jatuh, terbit tahun 1947. Kemudian ia dimasukkan penjara oleh Pemerintah Belanda karena membawa surat-surat yang dianggap berbahaya oleh tentara Belanda. Sebelum itu, Pram memang aktif dalam perjuangan kemerdekaan dan aktif juga dalam bidang pers. Sebenarnya Pram kala itu sudah banyak menulis karya sastra namun banyak yang hilang naskahnya.
Karya-karya Pram kebanyakan berupa novel, yakni Perburuan (1950), Keluarga Gerilya (1950), Di Tepi Kali Bekasi (1950), Keluarga Gerilya (1950), Mereka yang Dilumpuhkan (2 jilid, 1951-1952), Bukan Pasar Malam (1951), Korupsi (1954), Midah Si Manis Bergigi Emas (1954), Gulat di Jakarta (1953), Percikan Revolusi (1950), Cerita dari Blora (1952), Cerita dari Jakarta (1957).
Setelah aktif di Lekra, ditulisnya novel dan telaah yang mencerminkan acuan politiknya. Karya-karya yang demikian ini seperti: Orang-orang dari Banten Selatan (1959), Hoa Kiau di Indonesia (1959), Panggil Aku Kartini saja (1962). Novel-novelnya yang terakhir ditulis adalah Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980) sempat menggamparkan sastra Indonesia, namun karena alasan politik, novelnya itu dilarang beredar di Indonesia.
Dalam tekanan di P.Buru ia mengarang buku (diterbitkan setelah ia dibebaskan), yaitu: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca. Keempat roman ini saling berkaitan akan tapi masing-masing berdiri sebagai kesatuan melengkapi kejadian masa kejadian 1898 sampai 1918, yaitu periode Kebangkitan Nasional.
Jika di tahun 1947 Pramoedya Ananta Toer dipenjarakan oleh Pemerintah Belanda karena aktif dalam perjuangan kemerdekaan, maka dipenjaranya Pramoedya Ananta Toer tahun 1980 di P.Buru tentu dianggap berbahaya oleh pemerintahan kala itu (jika dilihat tahunnya, saat pemerintahan ORBA).
Ada kesamaan perjuangan Pramoedya Ananta Toer ketika berjuang melawan Belanda dan ketika RI telah merdeka, yakni sama-sama dimasukkan dalam penjara! Wow tidak sembarang pejuang bukan, karena hanya pejuang yang istimewalah yang mengalami perjalanan hidup seperti ini.Untuk menjadi pejuang saja, tidak setiap orang mampu melakukannya, apalagi pejuang yang "istimewa"!!!
Sumber: http://id.shvoong.com/books/biography/2114947-biografi-pramoedya-ananta-toer/
Sumber gambar: sosbud.kompasiana.com
Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer


