Gentlebirth, Pilihan Cara Melahirlkan
komentar
Demi menghindari rasa sakit, banyak perempuan (calon ibu) memilih melahirkan melalui operasi caesar. Padahal melahirkan secara alami pun bisa berlangsung dengan nyaman dan tenang asalkan dilakukan secara lembut sesuai dengan ritme tubuh (gentlebirth).
Selain karena mereka (calon ibu) tidak mau kesakitan saat melahirkan, sehingga mereka memilih operasi, juga mungkin disebabkan karena faktor medis. Disamping itu, juga kadang karena ketidak relaan dari pihak laki-laki (suami), dengan berbagai alasan yang bisa mereka lontarkan (?).
Selain gentlebirth, ada juga hypnobirth dan waterbirth. Hypnobirth adalah metode untuk menyiapkan ibu hamil supaya memiliki kepercayaan diri dan rileks dalam menjalankan proses persalinan, sementara waterbirth adalah proses persalinan di dalam air. Dua metode ini tercakup dalam metode gentlebirth.
Gentlebirth adalah konsep persalinan yang tenang dan santun dengan memanfaatkan semua unsur yang alami. Tenang, karena ibu dalam kondisi rileks dan tidak diburu dan santun karena ibu diminimalkan rasa sakitnya.
Gentlebirth menghargai ibu dan bagi sebagai individu. Jika si ibu nyaman melahirkan dalam posisi berdiri, maka berdiri pun tidak apa-apa. Tapi bila lebih nyaman dengan jongkok, itu pun juga bukan masalah. Semua posisi tersebut adalah aman untuk melahirkan. Justru kekebasan si ibu bergerak selama persalinan adalah sesuatu yang rasional.
Sama seperti seseorang yang mendapat dorongan untuk makan dan tidur, saat akan melahirkan pun perempuan juga akan mendapat dorongan untuk mengambil posisi tertentu yang akan membuatnya merasa nyaman dan memungkinkan bayi yang dikandung mereposisi diri sehingga bergerak ke bawah dan keluar.
Sayangnya, posisi-posisi tersebut nyaris dilakukan jika melahirkan di rumah sakit atau rumah bersalin yang masih cenderung menganut prosedural. Di rumah sakit, ibu yang akan melahirkan biasanya akan ditempatkan dalam posisi tidur telentang (litotomi) atau setengah duduk, sehingga dokter atau bidan lebih mudah membantu persalinan. Padahal litotomi bertentangan dengan gravitasi bumi.
Melahirkan ibarat orang yang sembelit, tapi sembelit selama sembilan bulan. Bayangkan, sembelit dan harus buang air besar dalam posisi telentang, betapa susahnya.
Itulah mengapa orang terpatri dengan anggapan bahwa melahirkan itu menyakitkan. Padahal jika dilakukan secara benar, tidaklah demikian. Dan dalam proses persalinan, sering terjadi intervensi medis secara berlebihan dalam proses persalinan, temasuk operasi caesar.
Banyak perempuan lebih memilih operasi caesar, agar tidak merasa kesakitan. Tapi dia tidak memikirkan bagaimana ?perasaan? bayinya. Proses persalinan sering meninggalkan trauma bagi bayi. Begitu lahir, si bayi sudah dihadapkan pada cahaya yang terang dan suara gaduh peralatan medis dan aba-aba dari orang-orang yang tidak dia kenal sebelumnya. Ingat, selama dikandungan, bayi hanya mengenal suara sang ibu dan ayahnya atau orang-orang terdekat.
Padahal bayi memiliki sensor yang seribu kali lebih sensitif dari orang dewasa. Aba-aba seperti ?Ayo, ayo.. sudah hampir keluar? (atau ?Ayo.. kamu bisa? he..he..) saat persalinan bisa diterima bayi sebagai bentakan dan itu membuatnya tertekan. Ironisnya lagi, trauma itu bisa terbawa hingga mereka dewasa.
Maka jangan heran jika anak sekarang suka tawuran. Sebab, sejak baru nongol di dunia mereka telah dikenalkan dengan kekerasan dan bentakan atau intervensi.
Namun, tak hanya proses persalinan yang harus dilakukan secara lembut. Dari mulai saat proses pembuahan (senggama), hamil, bersalin hingga pasca melahirkan, semua harus dilakukan dengan penuh kelembutan.
Diolah dari harian Suara Merdeka Edisi 29 September 2011
Baca tulisan saya yang lain di http://hakimaza.wordpress.com
Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer


