Musik Angklung

  komentar

Angklung

Musik adalah detak gerak irama pikiran dan hati manusia di dalam memahami semesta. Musik bagaikan lorong yang dapat menunjukkan arah pada titik yang menjadi tujuan bagi yang menciptakan musik dan yang mengalunkan lagu yang diiringi dengan musik. Musik dari jaman ke jaman senantiasa mengalami inovasi. Seperti musik yang berbahan dasar dari bambu ini yang diberinama Angkulung. Sejarah musik Angklung begitu mempesona jika kita minyamak sejarahnya. 

Angklung merupakan alat musik yang berasal dari Jawa Barat. Angklung gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke Bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.

Saat ini banyak yang menafsirkan dari rentetan sejarah yang mengiringi perjalanan musik Angkulung ini. Angklung memiliki banyak tafsir, sehingga kita harus melirik banyak penulis yang membicarakan tentang musik Angklung ini. Sehingga kita memiliki wawasan yang cukup tentang Angklung.

Masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, memfungsikan Angklungdi antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.

Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip).

Perenungan masyarakat Sunda dahulu dalam mengolah pertanian (tatanen) terutama di sawah dan huma telah melahirkan penciptaan syair dan lagu sebagai penghormatan dan persembahan terhadap Nyai Sri Pohaci, serta upaya nyinglar (tolak bala) agar cocok tanam mereka tidak mengundang malapetaka, baik gangguan hama maupun bencana alam lainnya. Syair lagu buhun untuk menghormati Nyi Sri Pohaci tersebut misalnya:

Si Oyong-oyong
Sawahe si waru doyong
Sawahe ujuring eler
Sawahe ujuring etan
Solasi suling dami
Menyan putih pengundang dewa
Dewa-dewa widadari
Panurunan si patang puluh

Semoga kita menjadi bukan sekedar pelantun dan penikmat musik Angklung. Lebih dari itu kita harus menghayati setiap bunyi yang dapat membangkitkan gairah kamanusiaan kita untuk lebih dapat menghadapkan pikiran dan jiwa kepada Sang Pencipta.

 





Ripiu comments powered by Disqus



Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer