Jamur PEMBUNUH NYAMUK DBD

  komentar


     Pengasapan Dan Penebaran Larvasida Kimia Untuk Mengendalikan Populasi Nyamuk Penyebab Demam Berdarah Dengue Dianggap Tidak Ramah Lingkungan. Dengan Menggunakan Jamur Metarhizium Sp, Selain Nyamuk Terbunuh, Lingkungan Pun Tidak Tercemar.

Pengasapan dan penebaran larvasida kimia untuk mengendalikan populasi nyamuk penyebab demam berdarah dengue dianggap tidak ramah lingkungan. Dengan menggunakan jamur Metarhizium sp, selain nyamuk terbunuh, lingkungan pun tidak tercemar.

     Deni Zulfiana MS, peneliti biomaterial dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), tengah sibuk mengembangkan riset tentang pemanfaatan jamur entomopatogen untuk mengendalikan serangga, khususnya rayap tanah. Penelitian yang ia dan timnya lakoni sejak tiga tahun lalu itu berhasil mengetahui kemampuan patogenik beberapa jenis jamur terhadap rayap tanah Coptotermes sp. Salah satu jamur yang diketahui mampu membunuh rayap adalah Metarhizium sp.

Hasil penelitian itu kemudian mengilhami Zulfiana untuk menguji coba mengendalikan nyamuk vektor demam berdarah dengan jamur-jamur entomopatogen. “Saya bertanya-tanya, kalau jamur entomopatogen terbukti cukup ampuh mengendalikan rayap, bisa jadi cukup efektif juga untuk mengendalikan nyamuk vektor demam berdarah,” cetus perempuan yang pernah menghasilkan karya ilmiah berjudul Pengaruh Substrat Serealia terhadap Patogenitas Jamur Entomopatogen pada Rayap Tanah Coptotermes sp.

     Zulfiana lantas menelusuri riwayat jamur-jamur entomopatogen. Usut punya usut, ternyata diketahui jamur-jamur itu juga memiliki aktivitas toksin berpadu enzim yang dapat membunuh nyamuk dan larva. Karenanya, ilmuwan mikrobiologi itu pun berusaha mengembangkan potensi jamur entomopatogen, khususnya Metarhizium sp sebagai produk larvasida hayati (biolarvasida) untuk mengendalikan populasi nyamuk Aedes aegypti, yang merupakan vektor pembawa virus Dengue.

Selama ini penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti belum bisa diatasi secara tuntas. Pasalnya, sampai sekarang belum ditemukan vaksin pembunuh virus penyebab demam berdarah itu. Salah satu cara pencegahan penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD) atau dengue haemorhagic fever (DHF) dilakukan dengan pencegahan penularan virus Dengue, yaitu dengan mengendalikan dan memberantas vektor untuk memutuskan transmisi penyakit.

     Pemberantasan nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor utama DBD dapat dilakukan dengan berbagai metode, salah satu di antaranya dengan memelihara sanitasi lingkungan yang bertujuan mengurangi populasi nyamuk. Sementara itu, pengendalian populasi vektor yang banyak dilakukan antara lain secara mekanis, kimiawi, dan biologis terhadap nyamuk pradewasa dan dewasa.

Pengasapan (fogging) merupakan salah satu metode pengendalian secara mekanis. Target dari pengasapan adalah membunuh nyamuk dewasa. Sayangnya, pengasapan dianggap kurang efektif karena metode itu cenderung mengusir nyamuk dari sarangnya, bukan membunuh nyamuk. Selain itu, penggunaan bahan kimia dalam pengasapan justru menyebabkan kayu kerangka rumah mudah lapuk diserang serangga perusak.

     Metode lain yang digunakan adalah penebaran larvasida seperti abate di tempat-tempat pembiakan nyamuk. Metode itu terbukti lebih efektif mengendalikan populasi nyamuk Aedes aegypti dibandingkan dengan metode pengasapan. Sebab, larvasida bersifat spesifik terhadap targetnya, yaitu fase pradewasa (telur, larva, pupa). Daya kerja larvasida dengan menghambat pertumbuhan jentik nyamuk. Bentuknya dapat berupa racun kontak atau racun lambung.

     Larvasida yang cukup banyak digunakan adalah senyawa golongan fosfor organik, yaitu temephos. Larvasida itu diformulasikan dalam bentuk butiran pasir (sand granules) dengan dosis 1 part per million (ppm). “Memang penggunaan larvasida kimia ini berhasil mengendalikan jentik Aedes aegypti, namun penggunaan larvisida kimia terus-menerus justru akan menyebabkan resistensi dan berbagai masalah lingkungan,” jelas Zulfiana.

Dampak negatif dari penggunaan larvasida kimia antara lain dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, keracunan, kematian organisme bukan sasaran, dan menghasilkan residu. Pemakaian temephos selama tiga bulan saja dapat menyebabkan air menjadi kotor dan bau.

Biokontrol Hama

     Berdasarkan alasan itu, Zulfiana mengembangkan teknik pengendalian hayati populasi Aedes aegypti yang diharapkan bersifat lebih efektif, efisien, dan ramah lingkungan. Dari hasil penelitian, jamur-jamur entomopatogen diketahui memiliki aktivitas larvasida. Jamur Metarhizium sp yang menghasilkan senyawa destruxin, terbukti potensial digunakan sebagai biokontrol serangga hama pertanian seperti kumbang dan rayap.

     Zulfiana menguraikan tahapan-tahapan penelitiannya. Awalnya, disediakan media produksi senyawa mikotoksin yang dihasilkan dari Metarhizium sp. Media yang digunakan adalah Czapex-Dox Broth dengan perlakuan variasi kombinasi glukosa sebagai sumber karbon dengan yeast extract sebagai sumber nitrogen. Berdasarkan pengujian ekstrak kasar hasil fermentasi Metarhizium sp terhadap larva nyamuk ketiga menunjukkan hasil yang efektif. Tingkat kematian larva antara 50-100 persen dengan perlakuan berbagai konsentasi ekstrak kasar hasil fermentasi Metarhizium sp.

Setidaknya, ada empat tahap invansi Metarhizium sp terhadap pengendalian nyamuk. Pertama, kontak antara jamur dan larva nyamuk. Pada tahap ini senyawa mukopolisakarida memegang peranan sangat penting. Kedua, penempelan dan perkecambahan jamur. Ketiga, penetrasi dan invasi yang menembus kulit luar larva nyamuk. Penembusan dilakukan secara mekanis dan kimia dengan mengeluarkan enzim dan toksin. Keempat, jamur yang telah masuk merusak bagian dalam larva hingga menyebabkan kematian.

     Dari hasil kajian berbagai literatur, Zulfiana mengetahui kelebihan-kelebihan Metarhizium sp sebagai mikroba agen pengendali nyamuk. Salah satunya adalah dapat membunuh larva nyamuk dengan tingkat mortalitas tinggi. Kelebihan lainnya jamur juga dapat dikembangbiakan dalam jumlah yang besar pada media artifisial yang murah, serta konidianya mudah disimpan. Selain itu, kegagalan perkecambahan dan persistensinya yang tidak terbatasi pergantian kulit inang, menjadikan Metahirzium sp efektif digunakan sebagai agen pengendali nyamuk.

     Dekstruxin yang dihasilkan Metarhizium sp juga tidak menyebabkan efek samping pada manusia. Jamur tersebut juga tidak menghasilkan toksin yang berbahaya terhadap lingkungan. Ditinjau dari residu yang dihasilkan, zat itu tidak menyebabkan perubahan rasa, warna, dan bau pada air. Meski cukup potensial menjadi alternatif pengendali jentik nyamuk penyebab DBD, sayangnya pemanfaatan jamur entomopatogen belum populer.

     Menurut Zulfiana, hal tersebut dikerenakan daya kerja jamur yang membutuhkan waktu lama. Oleh sebab itu, masih terbuka ruang penelitian produksi formulasi larvasida hayati berbasis jamur entomopatogen yang lebih efektif, efisien, dan ramah lingkungan. Dengan penelitian yang lebih intensif diharapkan jamur entomopatogen bisa mengatasi permasalahan penyakit DBD di Indonesia.

dikutip dari www.koran-jakarta.com





Ripiu comments powered by Disqus



Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer