Jejaring Sosial dan Lika likunya
komentar
Saya rasa semua orang pernah mengalami yang namanya patah hati, jatuh cinta, masalah keluarga, letih, capek, dan lain sebagainya. Dan semua orang dapat mengekspresikannya dengan cara berbeda-beda. Mungkin ada yang coba untuk berdiam diri dikamar, mencari suasana loneliness agar bisa menangis, merenung, pergi jalan-jalan, dan bahkan mabok-mabokan. Dan saya rasa juga, ada bagian-bagian tertentu dari semua moment yang saya sebutkan diatas yang rasanya tidak perlu diketahui oleh semua khalayak atau yang membutuhkan ?privasi?. Menurut saya pribadi, tidak semua permasalahan harus diketahui oleh semua orang karena beberapa bagian dari pada masalah tersebut tidak untuk diketahui orang lain. Atau bahkan, tidak penting sama sekali untuk diketahui banyak orang. Internasional Demonstration Effect yang selama ini menjangkiti masyarakat di Indonesia tidak hanya menular di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya.
Fenomena jejaring sosial sepertinya sudah menerobos nilai-nilai privasi yang dimiliki oleh manusia-manusia zaman sekarang. Lebih daripada itu, jejaring sosial, seringkali digunakan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak riil, menjadi begitu nyata. Saya akan mencoba untuk membahas masalah ini melalui pendekatan Posmodernisme, dimana tidak ada lagi batasan bagi setiap manusia untuk mengekspresikan dirinya secara blak-blakan didepan umum sampai pada tingkat yang paling ekstrem. Saya akan coba mengkategorikan ekspresi di jejaring sosial ini kedalam 4 kategori.
- Pertama, ekspresi tidak penting sama sekali untuk diketahui oleh orang.
- Kedua, ekspresi yang selalu membawa-bawa nama tuhan seolah-olah sudah mau mati.
- Ketiga, ekspresi yang memutarbalikkan fakta, dan sombong dan,
- Keempat, ekspresi cinta yang berlebihan.
Pertama, ekspresi yang sama sekali gak penting misalnya "mau makan dulu nih", "mau mandi dulu nih", "mau eek dulu nih", adalah sesuatu yang sebenarnya sama sekali tidak penting untuk diketahui orang lain. Mau makan aja harus lapor lewat status.
Kedua, ekspresi yang selalu membawa-bawa nama Tuhan. Contohnya ?Ya Allah, mudahkanlah jalanku?, "Tuhan, berikanlah Ridhomu", "kenapa seperti ini ya Allah", "kuatkan hamba ya Tuhan" dll. Yang pertama kali terbesit di otak saya ketika membaca status ini mempunyai dua kemungkinan, si penulis status sangat alim (gak tau bener atau tidak), dan yang kedua, si penulis status udah mau mati kayaknya, habis minta tolong terus.
Ketiga, ekspresi memutarbalikkan fakta. Misalnya "lagi makan di Pizza Hut", "sedang jalan-jalan ke Melbourne", "rapat lagi nih ama si bos". Sebernarnya kalaupun memang benar adanya kejadian di status ini, berarti si penulis status tidak mampu sederhana dan sangat-sangat sombong. Dan kalau ternyata kejadian yang ditulis hanya tipu belaka, kamu bisa maki dia sepuasnya.
Keempat, ekspresi cinta yang berlebihan. Misalnya "Sayang, malam minggu kita kemana?", "aku akan selalu mencintaimu walaupun kau tidak", "aku tau, semua akan indah pada waktunya" dll.
Metamorfosis yang terjadi akibat adanya jejaring sosial ini mengakibatkan kebebasan berekspresi yang terlalu ekstrem membuat ruang-ruang privasi bagi manusia itu sendiri semakin sempit. Eksploitasi yang dilakukan dengan mencangkok manusia dari dirinya sendiri pun semakin membuat manusia-manusia zaman sekarang ini tidak percaya pada dirinya sendiri. Mereka seolah-olah ingin menunjukkan dirinya yang sebenar-benarnya kepada khalayak jejaring sosial dengan harapan akan mendapatkan popularitas. Posmodernisme memang sangat baik jika yang diterapkan adalah aspek kebebasan seluas-luasnya untuk berfikir. Tapi menurut hemat saya, tidak sama halnya dengan kebebasan mengekspresikan diri secara berlebihan yang pada akhirnya membuat nilai-nilai budaya timur yang sahaja menjadi vulgar dan liberal.
Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer


