Kebiasaan Menunda Pekerjaan
komentar
Pernahkah Anda merasa dikejar-kejar oleh waktu ketika mengerjakan tugas atau laporan padahal tugas itu diberikan 1 minggu yang lalu ? Atau Anda merasa cemas karena keesokan harinya laporan tersebut harus segera terkumpul. Kalau Anda pernah mengalami kondisi tersebut maka Anda bisa dinyatakan sama seperti golongan mayoritas orang-orang pada umumnya. Kebiasaan menunda pekerjaan tersebut sering dikenal sebagai prokrastinasi.
Prokrastinator (Orang yang menunda pekerjaan) dianggap lemah dalam manajemen waktu. Mereka dianggap tidak dapat memprioritaskan manakah pekerjaan yang penting dan mana yang tidak. Meraka sering dianggap sebagai pemalas. Menurut para ahli, sikap prokrastinasi disebabkan oleh gangguan kejiwaan atau kepirbadian.
Penunda kronis biasanya meragukan kemampuan dirinya sendiri dan sangat khawatir terhadap penilaian orang lain. Dengan menunda pekerjaan, memungkinkan seorang penunda menemukan dalil jika pekerjaannya tidak optimal. Para ahli mengemukakan bahwa mereka sangat takut diragukan kemampuannya sehingga memilih menyalahkan yang lain akibat dari waktu yang tak cukup atau terburu-buru dalam mengerjakan ketika hasil kerjanya tak optimal.
Yang lebih mengkhawatirkan lagi, para penunda cenderung merusak kemampuan mereka sendiri untuk menjamin alasan ketika hasil kerja tidak optimal. Artinya mereka dengan sengaja mencari situasi yang bisa ia jadikan kesalahan jika hasil kerjannya tak optimal. Dengan begitu, jika terdapat sesuatu yang salah, mereka berharap agar orang lain akan menyalahkan situasinya, bukan kemampuannya.

Menurut para psikolog, pola pikir seperti itu berawal dari cara pengasuhan anak saat kecil. Sebagian besar para penunda kronis memiliki ayah yang bersifat otoriter. Bentuk pola asuh otoriter tersebut yaitu bagaimana, apa, dan kapan anaknya harus mengerjakan sesuatu yang mengakibatkan anak gagal dalam berinisiatif dan membuat perencanaan.
Salah satu penyebab yang penting juga berawal dari sikap orang tua yang menuntut anaknya untuk melakukan sesuatu dengan hasil sempurna, contoh anak dituntut untuk mendapat nilai bagus di sekolah, selalu menang jika bertanding, dan sebagainya, itu merupakan faktor yang menyebabkan anak tumbuh menjadi penunda. Akibat dari tekanan dari orang tua tersebut, membuat anak merasa bahwa semua yang ia lakukan dinilai oleh orang lain. Bagi mereka yang tidak tahan terhadap tuntutan tersebut, mereka berusaha mengalihkan penilaian orang lain terhadap sesuatu di luar dirinya, bahkan untuk hal-hal yang ia percayai tak akan sanggup ia lakukan. Intinya mereka dengan sengaja berusaha agar orang menyalahkan situasinya daripada kemampuannya.
Bagi para penunda kronis, mereka hampir seringkali menunda semua pekerjaannya sampai saat terakhir. Kebiasaan seperti itu tentu bisa berdampak buruk bagi karier mereka. Menurut hasil penelitian, disebutkan bahwa kebiasaan buruk tersebut membuat sebagian besar para penunda kronis tidak tenang atau bahagia. Mereka sering mengalami kegagalan dalam pekerjaannya akibat dari terburu-buru dalam menyelesaikannya sehingga mempengaruhi kualitas pekerjaannya. Kebanyakan dari mereka sadar bahwa mereka mempunyai pekerjaan yang belum terselesaikan dan cemas apakah pekerjaannya akan selesai tepat waktu atau tidak. Tapi, hal itu tidak membuat mereka bergegas untuk menyelesaikan pekerjaannya lebih awal.
Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer


