ketika alam bertasbih

  komentar

Ketika Alam Bertasbih

 

saya salahsatu penggemar novel ketika cinta bertasbih, oleh karenanya artikel ini diberi judul demikian

 

Semalam, aku tidak bisa tidur nyenyak. Karena tamu-tamuku, yaitu tuan dan nyonya nyamuk beserta anak buah mereka, tidak mau merelakan aku memejamkan mata. Dengung mereka saat melintasi telinga yang kalau diterjemahkan akan terdengar,

“lapar... lapar... haus... haus... darah... darah.... “

Sekitar jam sebelas malam setelah tugas mulia membimbing tunas-tunas bangsa menyelesaikan pekerjaan rumah mereka. Aku membaca beberapa halaman buku yang baru beberapa hari aku dapat sebagai kado ultah, aku mulai lelah dan siap-siap ke peraduan. Yaitu ruangan 3 x 5 yang dijadikan mushola yang hanya beralaskan karpet – salah beli – warna biru tua. Ku katakan salah beli karena setelah beberapa hari karpet ini mulai memperlihatkan karakter aslinya yaitu rontok bukan main.

Mushola ini punya empat jendela, seperti halnya di tiga ruangan lainnya yang berderet di sebelahnya, jendela disini pun berteralis. Tetapi, ventilasi udara di atasnya tanpa tedeng aling-aling. Dari sanalah gerombolan perampok bersayap itu masuk. Di pojok sana, merapat di dinding, diatas lantai putih yang tidak berkarpet, ada sebuah meja besar melengkung. Di bagian bawah kanan meja terdapat beberapa galon kosong dan di bagian bawah kiri tersimpan mukena dan sajadah. Di sebelah meja, ada sebuah etalase yang sebagian besar masih menyisakan tempat kosong, hanya beberapa tumpuk buku yang sudah tidak digunakan pemiliknya.

Beginilah kamar tidurku. Di atas karpet, ada beberapa sajadah yang terhampar tak beraturan, sepasang mukena yang biasa digunakan siswa putri, kunci ruangan di sebelah tempat menyimpan barang berharga dan – lebih banyak – barang tidak berharga dan tergeletak sebuah buku, aku baru membaca sampai pada pertengahannya. Warna biru tua karpet ini menjadi keuntungan tersendiri bagi kawanan cecunguk-cecunguk itu, sebab gerak-gerik mereka tersamarkan oleh warna-warna gelap. Nyamuk suka warna-warna gelap, tempat-tempat gelap dan mungkin manusia berkulit gelap. Saat gundukan daging mangsa berkulit agak gelap yang hanya satu-satunya terkulai lemah tak berdaya diatas karpet, mereka menyerang tanpa ampun dari berbagai sudut. Keuntungan lain buat mereka adalah bahwa sang mangsa tidak menggunakan tameng apapun untuk antisipasi, tanpa lotion anti nyamuk aroma buah, tanpa obat nyamuk bakar aroma asap, tanpa semprotan nyamuk aroma bunga, tanpa obat nyamuk listrik aroma karbol bahkan tanpa alat pembunuh nyamuk paling sadis yang pernah ku kenal, raket listrik petasan aroma gosong. Ku sebut petasan kerena suara nyamuk yang tersengat menimbulkan ledakan kecil mirip petasan, tak lama bau gosong pun mulai menyeruak, tapi sayang alat itu rusak, keuntungan tersendiri buat nyamuk. Aku tahu bahwa anti nyamuk manapun tak kan dapat menghalangi niat kawanan pencuri busuk ini untuk menjadikanku donor darah paksaan.

Ku rasakan serangan mereka kali ini lebih banyak melibatkan saudara-saudara jauh mereka. Kali ini jumlah mereka kira-kira dua kali lipat dari biasanya. Pukul 00 lebih aku terbangun. Ku rasakan gatal-gatal di kedua tanganku dan ku rasakan pula sepoy angin pagi ini terasa lebih sejuk halus menyapu wajahku. Sambil tetap meggaruk dan melancarkan sumpar serapah, aku bangkit dan ku tengok keluar jendela, dan pemahaman pun timbul. Permukaan aspal jalan, pohon-pohon palem, tiang listrik, tiang lanpu jalan, halaman belakang gedung, halte bus dan lapang upacara di seberang jalan semuanya basah. Hujan telah reda, hanya menyisakan gemersik angin pagi dan tetesan air yang masih tersisa di ujung dedaunan. Ini menjelaskan mengapa malam ini terasa lebih sejuk. Yang menyebalkan, ini pun menjelaskan mengapa gerombolan penghisap darah itu menjadi berlipat jumlahnya. Ternyata, rumah nyaman mereka, yaitu got di belakang halte bus, baru saja diserbu hujan dadakan saat itu saudara-saudara jauh dari kakek nenek mereka mampir untuk silaturahmi, dan mereka sekeluarga besar berbondong-bondong mencari tempat berteduh. Ruangan inilah tempat yang strategis untuk dijadikan hotel, mereka check in dan tanpa komando langsung mencari mangsa. Inilah berkah silaturahmi nyamuk-nyamuk. Peribahasa nyamuk mengatakan sambil menyelam minum air, sambil berteduh sedot darah.

Sampai pukul setengah dua dini hari, sudah tiga kali dengan perasaan kesal aku terbangun, rasa perih campur gatal menjalar di kedua tangan dan kakiku. Ku lihat hasil perbuatan bejat nyamuk-nyamuk itu, sepanjang kedua tangan dan kakiku banyak bukit-bukit merah kecil yang gatalnya bukan main. Seperti yang ku duga saat mataku berkeliling, ku dapati di lantai keramik dekat kepalaku, beberapa nyamuk gendut yang tak kuasa terbang tengah berisitrahat santai. Mereka yang telah berhasil menambah bobot badannya dua kali lipat ini, ku anggap tuan dan nyonya tamu tak diundang. Maka ku mulai aksiku. Satu tanganku menggaruk kaki, tangan yang lain menyerbu kawanan perampok yang tengah berisitrahat itu tak lupa disertai kata-kata pujian,

“mampus loh”,

Kini lantai putih telah ternoda warna merah darah yang aku yakini bahwa itu pasti darahku. Bahkan kalau di ruang ini aku tidur bareng Britney Spears, aku optimis bahwa nyamuk-nyamuk lebih berselera makan bila melihatku, mengingat tubuhku yang empuk, menggairahkan, padat berisi, lebih gempal dan sangat menjanjikan. Begitulah sampai tiga kali aku terbangun dan menyerang balik kawanan perampok dalam keadaan kesal dan gatal yang menjadi-jadi. Peribahasaku mengatakan sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, sekali tepuk dua tiga nyamuk harus mati.

 

Tapi kemudian aku sadar, tak adakah hikmah dari kejadian ini? Rasa kantuk sudah hilang, berganti dengan perasaan gelisah yang menyerang tiba-tiba. Gelisah yang muncul tak terelakkan. Gelisah karena ada beban yang masih menggelayut di pikiranku. Pukul setengah dua pagi hari kamis, aku teringat ibadah malam yang sudah lama ku tinggalkan. Tahajud. Aku yakin tahajud bisa mengobati rasa gelisah. Dua rokaat saja, tak perlu banyak-banyak. Allah lebih menyukai yang sedikit tapi sering dilakukan daripada yang banyak sekaligus tapi jarang dilakukan.

 

 

Senandung malam melantun mengisi kosong relung rasa

Tak lama

Mungkin hanya separuh sepenggalan

Purnama itu terhalang rajutan kekalahan yang sempurna

Bahkan gemilang yang tercurah

Tak mampu membuat bayang-bayang sang dewi yang kini terkulai tak terjaga

Tajamnya mata malam tak mampu menembus

Dinding batas penghalang purnama kerinduan

Penebar kebencian kedukaan mendalam

Dibalik kemelut kehampaan

Hingga gugur kelopak cahaya terakhir tak tertahan

Oleh irama tarian yang dihembusnya

Mimpikah

Bangunkan aku bila tak salah duga

Ataukah

Tenggelamkan dalam kelam

Agar aku tak lagi berjumpa purnama

(Rindu Purnama, Iyan Taryana, 15 Oktober 2005)

 

Wahai malam yang mencekam

Tidakkah engkau kembali?

Zamanmu telah berganti

Diguyur hujan dari langit

Semua makhluk penuh dengan tipuan

Aku merasa bagian dari mereka

Atas nama hidup

Yang dibenci bukanlah yang kau hindari

Yang dibenci bukanlah yang kau takutkan

Yang dicintai bukanlah yang kau hasratkan

Banyak ketakutan manusia yang nyata

Lalu mengapa harus bersedih karena sesuatu yang tidak berguna?

(La Tahzan)

 

Aku gelisah.

Aku ingin berubah.

Aku harus berubah.

 

 

Ku ambil wudhu, rasanya sejuk, sedikit menghilangkan rasa perih dan gatal. Selesai sholat, sebentar aku mengaji, satu halaman saja, tak perlu banyak-banyak.

Buku itu, yang dari tadi tergeletak disamping tubuhku, yang aku baca beberapa halaman sebelum tidur, telah membuat aku gelisah, telah dapat membangunkan mimpi-mimpi “mustahil” yang dulu pernah aku simpan di hati terdalam. Ku sebut mustahil karena aku, anak kampung, mana mungkin punya impian tinggi, lulus S1 saja itu hal yang teramat agung sumbangsih untuk kedua orangtuaku. Tapi buku itu telah berani mengusik macan tidur dalam otakku. Aku tak bisa pungkiri bahwa setiap peristiwa yang aku baca di sana adalah suatu untaian ilmu. Aku tak bisa menolak saat kebenaran demi kebenarannya mulai merontokkan setiap mata rantai yang semenjak lulus SMA membelenggu cita-citaku. Sederhana saja, faktor M, itulah yang menggelayuti pikiranku yang membuat aku berfikir mustahil aku bisa meneruskan studyku, mengingat rumahku di kampung sana tak pernah absen dari kebocoran setiap musim hujan. Buku itu menyadarkanku bahwa mimpiku adalah sumbu api yang menghidupkan otakku. Mimpi adalah cahaya, menerangi setiap pemikiran dan ide-ide cemerlang, tanpa mimpi otak akan redup. Seolah berbisik pada hati terdalam agar aku lepaskan mimpiku, biarkan ia hinggap di bintang tertinggi, dan aku pun tergoda. Aku terbangkan lagi cita-citaku, agar suatu saat dapat kuraih sambil menatap purnama di negeri orang.

Semilir angin pukul tiga pagi berhasil membelai lembut mataku dan menjadikan hamparan karpet biru itu terlihat lebih indah dari sebelumnya bahkan suara dengung nyamuk kelewat indah bak Siti Nurhaliza mendendangkan nina bobo yang mengalun merdu di telingaku. Setelah tadarus sekaligus ku baca terjemahnya, dengan mata berat yang tak bisa kompromi aku lanjutkan hibernasi dengan balutan jaket SMA dan kain sarung sebagai tameng untuk menghalau serangan preman-preman haus darah itu. Ku set alarm di hape, agar dapat bangun tepat waktu.

 

Setelah sholat subuh aku teringat amalan yang bisa aku lakukan hari ini. Mulanya kau ragu, tapi ku ingat buku itu, ku ingat mimpiku. Dengan bismillahirrohmanirrohim dan dengan melangkahkan kaki, bahwa hari ini aku niatkan untuk berpuasa sunnah. Setelah mandi, segara bersiap untuk pergi. Siang ini adalah giliran aku piket di cabang lain. Sampai saat ini, anak-anak bangsa yang haus ilmu di kota itu masih belum dapat konsultasi penuh masalah pelajaran meraka, kami bertiga di sini bergilir setiap minggu. Sebenarnya berangkat ke sana tidak perlu pagi-pagi buta seperti ini. Tugas wajib ku sama, dimulai jam 2 siang. Aku bisa berangkat jam 10 nanti dan bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk membaca halaman buku yang masih menyisakan tanda tanya. Tapi pagi itu dengan semangat entah dari mana, jam 6 pagi aku sudah siap dengan segala perlengkapanku, saat penghuni lain gedung ini bahkan belum sempat mandi. Entah kenapa aku ingin berangkat pagi-pagi kesana. Entah kenapa hari ini aku ingin menikmati perjalanan panjang kesana. Entah kenapa hari ini, tak seperti hari-hari sebelumnya, aku tidak ingin cepat sampai tujuanku. Aku ingin melajukan vario merah itu dengan lebih pelan, 3 jam pun tak apa-apa, 1 jam lebih lama dari biasanya, tapi aku bisa menikmati jalanku, menikmati pemandangan negeriku sebelum aku menikmati indahnya belahan dunia yang lain di luar sana.

Alam pagi ini mendukung niatku, mendung kelabu menutupi sebagian besar langit biru di atasku. Rupanya hujan semalam baru pembukaan musim, ini bulan Oktober, musim di khatulistiwa mulai memasuki penghujan. Suasana pagi ini semakin syahdu karena ditambah dengan sepoy angin pagi yang sejuk penuh dengan embun-embun pagi yang menyegarkan mata. Aku tak perduli meskipun mendung ini berubah menjadi badai besar, yang aku inginkan saat ini adalah menikmati perjalanan ini. Sepertinya semakin jauh perjalanan semakin senang hatiku, karena selama aku menikmatinya, aku merasa hidup lebih lama dari siapapun. Terkadang ku lirik kiri dan kanan jalan, tiba-tiba aku merasakan lapar. Sesaat aku gamang apakah aku meneruskan puasaku ataukah kuundur nanti sampai senin. Tapi lagi-lagi aku teringat niat hari ini, aku ingin menikmati perjalanan, maka akupun ingin menikmati puasaku hari ini. Tak perduli apapun, setiap detik, setiap nafas yang ku hembus, aku harus puasa hari ini.

Sesekali aku bertasbih, menikmati sejuknya angin pagi, angin bertasbih, menikmati indahnya pagi ini, mengalihkan pandangan dari warung-warung pagi ke gulungan awan kelabu di atas. Subhanallah, pagi bertasbih, bagaimana mungkin aku tidak mensyukuri pagi ini, awan tebal menghalangi matahari pagi, matahari bertasbih, tapi tak kudengar gemuruh sedikitpun, awan-awan bertasbih, sedangkan mungkin di belahan bumi sebelah sana tak ada kesejukan seperti yang ku rasakan. Alam bertasbih, setiap saat bertasbih. Mengagungkan nama Robbnya, patuh pada setiap ketentuannya.

Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan.

Ku lajukan vario merah ini menuju Cikampek dengan kecepatan sekitar 40. Sebelum mall Cikampek aku mengambil jalur alternatif ke arah kanan, jalur yang sama yang dilalui bus warga baru saat aku SMA dulu. Mana mungkin aku lupa jalur ini, kenangan indah ini dengan teman-teman seperjuangan dalam satu bus, dengan teman sebangku si mata sipit jangkung yang aneh, dengan si kecil cerdas yang kini almarhum, dengan si cantik yang ramah, dengan si jelek yang jutek, dengan para pengamen yang kadang hanya bermodal tepuk pramuka, dengan para penjaja permen jahe dan asem, dengan para penjual donat, dengan para pencari sumbangan untuk mesjid atau yayasan yatim piatu di antah berantah, tak lupa dengan ibu-ibu penjual pindang. Aku melaju melintasi jembatan layang diatas jalan tol Cikampek-Jakarta lalu ku ambil jalan ke kiri, memasuki jalur alternatif. Ku katakan jalur alternatif, karena jalan ini sebenarnya cukup enak dilalui tapi jauh dari keramaian, akan ramai hanya pada interval H – 7 sampai H + 7 lebaran, saat jalan menuju pasar Cikampek dari berbagai arah menjadi padat merayap. Jika kurasakan vario semakin cepat, maka segara aku turunkan kecepatan, perjalanan masih jauh, sekali lagi aku teringat, tidak ingin cepat sampai tujuan. Ku lantunkan beberapa bait lagu kesukaanku seraya menikmati pemandangan sepanjang jalan dengan dihiasi kepak sayap-sayap kuning kupu-kupu pagi ini. Seolah mereka pun bernyanyi menyambut musim hujan tahun ini, kupu-kupu bertasbih.

 

Lilin-lilin putih berilah terangmu   

Lilin-lilin putih temanilah aku       

Sepi sendiri di malam ini             

Tiada kasih yang menemani 

 

Cerita cintaku dia telah tahu 

Derita hatiku dia juga tahu 

Siapa diriku dia pun telah tahu 

Bagaimana aku semuanya dia tahu

 

Ah...aku suka lagu ini, sebelum tidur sering aku meminta khusus Evie Tamala menyanyikannya sebagai lagu nina bobo dan ternyata ini lebih efektif dan lebih dahsyat daripada nyamuk-nyamuk yang melantunkan lagu cindai.

Sampai di ujung jalur alternatif ini, aku ambil arah kanan, ke Sadang, tetap dengan kecepatan yang hampir tidak berubah dan tetap melantunkan beberapa syair lagu. Sampai di simpang empat Sadang ku ambil jalur ke arah kiri. Ku lewati beberapa jembatan, pasar Cipeundeuy, jalan yang turun naik, pasar Kalijati dan bentangan kebun-kebun karet yang sebagian lahannya telah gundul. Entah berapa banyak kebun karet yang sudah ku lewati, tapi bukan ini yang aku tuju, aku harus melewati kebun karet terakhir dan memasuki gapura besar yang masih jauh di depan sana. Ya, kesanalah tujuanku, kota Subang, tepatnya di jalan Ki Hajar Dewantara, lalu masuk gang kecil di sebelah kiri SMA 1 subang. Disebelah utara gang terdapat bangunan yang aku tuju. Bangunan 2 lantai yang menghadap langsung SMA 1 subang ini, yang bagian atasnya masih dalam pembangunan. Akupun sampai di tempat tujuanku dan ku lihat langit mendung masih setia memayungiku.

Halamannya tidak luas. Di bagian depannya terpasang spanduk warna biru tua. Di bagian atasnya adalah kamar-kamar kos yang masih belum rampung, masih dalam tahap pembangunan. Sedangkan di bagian bawah gedung ini terdapat 3 ruang kelas yang jika aku tiba di sana selalu dalam keadaan yang berantakan. Di bagian koridornya banyak terdapat bahan bangunan yang belum terpakai. Ada beberapa lembar pintu bersandar di dinding kelas, banyak dus keramik ukuran 40 x 40. Di sisi lain koridor juga bersandar beberapa lembar kaca putih polos dan beberapa lembar fiber flat. Satu kelas berada di bagian kiri, kelas ini jarang ku gunakan dan dua yang lain berada di bagian kanan, saling bersebelahan. Dua kelas inilah yang akan aku gunakan untuk mengajar dua jam langsung paralel jam dua siang nanti.

Menjelang pukul dua siang beberapa anak kelas X dan XI sudah mulai bermunculan. Salah seorang siswa kelas XI menawariku 1 botol minuman bertuliskan minuman teh rasa apel. Dia bilang beli dua botol. Alhamdulillah, ada rizki untuk berbuka di perjalanan pulang nanti.

Dimulai dari pukul dua sampai pukul empat sore aku harus bolak-balik mengajar di dua kelas. Inilah tantangan bagiku, sebenarnya aku tidak suka kalau mengajar paralel seperti ini, sebab perhatianku terbelah, konsentrasiku terpecah. Sebetulnya persoalannya sederhana saja, sejauh mana aku bisa membuat mereka betah di kelas dan mau mengerjakan soal, tapi ini bukan perkara mudah.

Beruntung anak-anak kelas XI mau mengalah. Setelah selesai memberi materi dan soal persamaan kuadrat, ku tinggal sementara kelas X, dan mulai menggarap bab yang paling amit-amit di kelas XI, Trigonometri. Bab ini seperti momok yang mengerikan, terus terang aku sedikit takut menyampaikan bab ini, sebab sepanjang sejarah aku menyampaikan materi pelajaran ini, murid dari sekolah manapun umumnya mengeluhkan hal yang sama, ga’ ngerti sebab rumusnya banyak, bingung harus pakai rumus yang mana. Inilah masalah klasik hampir setiap siswa yang aku kenal, terjebak dalam formula-formula memusingkan warisan orang-orang sinting jaman dulu. Maka, pada bab ini aku harus hati-hati dalam menjejalkan satu demi satu rumus-rumus yang ada. Beberapa siswa sudah menunjukkan wajah ingin muntah bahkan sebelum kupaksakan masuk ke otak mereka, sedang yang lain menyiratkan bahwa lebih baik makan kulit duren daripada belajar trigonometri, seolah mereka berkata,

“kenapa harus ada lagi bab mengerikan ini, bukankah sudah cukup trigono kelas X”

atau,

ga ngerti........”

atau,

rumusnya banyak........”

atau,

“pusing........”

atau,

“aku sudah muak dengan segitiga dan grafik ular”

Tapi inilah hidup, terkadang kita harus menelan pil pahit tanpa kita inginkan.

Belum tentu hal yang kau benci buruk bagimu, malah mungkin yang terbaik untukmu.

Kalau aku gambarkan, trigonometri ibarat seorang wanita yang cantik, cerdas, kaya tapi imbasnya dia angkuh, sombong dan penuh misteri. Namun, kalau kau sudah bisa menaklukkan hatinya, maka ia adalah teman main yang sangat menyenangkan. Ia akan senang menemanimu berpetualang. Kau pun bisa jatuh hati padanya. Dia murah senyum, dia tidak segan-segan memberimu apapun yang ia miliki, ia banyak menemanimu dalam memecahkan sejumlah misteri. Ia juga membantumu dalam membongkar rahasia-rahasia dalam sebuah segitiga, sesuai dengan namanya, trigono = segitiga, metros = aturan, jadi trigonometri = aturan yang berlaku dalam sebuah segitiga. Sayangnya tak banyak yang tahu tentang teori kewanitaannya, banyak siswa hanya tahu bahwa trigonometri adalah representasi guru killer di sekolah.

Saat keluar kelas X untuk masuk ke kelas sebelahnya, kulirik keluar pintu, terlihat disana langit telah menumpahkan rahmatnya hari ini. Langit bertasbih dengan hujannya.

Aku teringat sebuah puisi indah yang pernah aku baca,

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu pada api yang menjadikannya abu

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

Awan pada hujan yang menjadikannya tiada (guru besar Sapardi Djoko Damono)

 

 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan tasbih cinta yang tak sempat dituliskan

Sembilan puluh derajat pada tangen yang menjadikannya tak terdefinisi (calon guru besar Iyan Taryana)

 

Beruntung aku sampai sebelum hujan turun. Aku masuk ke kelas XI untuk menyelesaikan soal yang tadi aku tinggalkan untuk mereka. Belum selesai aku membahas soal, tiba-tiba kelas menjadi gelap dan anak-anak kompak berteriak. Terdengar pula teriakan dari kelas sebelah. Lampu padam, tapi kelas tidak boleh bubar meskipun gelap, hal ini mengingatkanku pada kisah di film yang minggu kemarin aku tonton. Ku tinggalkan kelas XI karena di kelas sebelah aku tinggalkan dengan 5 soal. Tapi tak lama lampu kembali menyala dan kompak kami berucap, “alhamdulillah”.

 

Sekitar pukul empat sore dua kelas itu aku bubarkan. Meskipun aku menikmati mengajar dan ku lihat mereka pun masih menikmatinya dan tanpa sadar sudah dua jam lebih mereka belajar, tapi belajar hari ini harus aku sudahi. Khawatir akan terjebak hujan deras dan aku tak mempersiapkan diri kalau sampai bermalam disini. Selepas sholat asar aku bersiap meluncur pulang. Ku hela nafas, semoga perjalanan pulang ini tak kalah indah dari berangkatnya. Ku siapkan perlengkapanku, ku kenakan jaket hitam kelas III SMA, dan tak lupa aku masukkan hape ke kantong kiri jaket agar aku dapat ber-sms atau sekedar melihat jam berapa sekarang.

Langit masih murung dan gerimis sepertinya menjadi tenaga sukarela menemaniku seolah dia berkata,

kan kutemani kau kemanapun pergi.”

Ku awali dengan basmalah. Sebelum kusakukan kulihat jam di pojok kanan atas layar LCD hape, jam menunjukan pukul 16.05. Ku tancap gas menyusuri jalan yang sama dari mana aku datang. Ku pikir mungkin akan sama dengan barangkatnya, perjalanan pulangpun akan menempuh waktu sekitar tiga jam, maka lepas jam 7 malam baru akan sampai. Itu berarti aku harus berhenti sebentar di Cikampek untuk sholat dan berbuka puasa.

Ku lalui jalan yang sama, berkelok-kelok, naik turun. Perjalanan pulang kali ini tampak begitu lengang, mungkin karena langit mendung dan permukaan aspal cukup basah sehingga jalan di depanku tampak sering kosong, hanya sesekali truk-truk terlihat. Melihat jalan yang cukup lengang, terjadi perdebatan dalam hatiku

“lihatlah yan, jalan didepanmu kosong, larikan motor ini, melajulah”

“pelan saja, ingat nikmati perjalanan ini, bukankah hari ini, perjalanan ini yang ingin kau nikmati? Baru saja diguyur gerimis, kondisi yang kurang bersahabat untuk para pengendara”, jalan bertasbih.

“lihatlah truk yang lambat itu, benar-benar tak bisa menghargai jalan yang kosong di depannya, lihatlah sepeda motor yang santai itu, benar-benar tak bisa melihat kesempatan untuk melaju menembus masa depan. bukankah kau ingin mengejar ketertinggalanmu? raihlah, majulah, melajulah. kejarlah segala ketertinggalanmu selama ini. jangan kau khianati nalurimu, kaulah raja jalanan saat ini.”

Vario pun seolah ikut berkata, “aku ikut apapun katamu, tuan, cepat lambatku, selamat celakaku semua bergantung di tanganmu, saat ini kaulah majikanku,” vario bertasbih.

Ku lalui lagi bentangan kebun karet yang sebagian telah gundul karena yang empunya sepertinya ingin membabat habis semuanya. Pertama kali melihat sebagian kebun karet ini gundul, ada rasa sedih seolah aku telah kehilangan sesuatu yang berharga dari hidupku. Kebun karet itu memang bukan milikku, tapi sadarkah wahai yang merasa punya kebun, bahwa bentangan pohon-pohon karet yang hijau sepanjang jalan ini, semasa hidup mereka telah memberikan sumbangsih oksegen untuk kita semua? Mengapa kamu tega membabat mereka? Mau kau apakan lahan merah yang kosong ini? Akankah kau tumbuhkan lagi mereka ataukah akan kau jadikan pabrik-pabrik penghasil limbah lagi? Aku kesal sendiri, mengapa semakin lama kesadaran lingkungan penduduk bangsa ini semakin terpuruk.

Tapi mungkin aku telah salah duga. Setelah aku melihat cukup jauh. Saat kulemparkan mataku arah jam 9 jauh dari jalan yang sekarang ku lalui, menembus hamparan tanah yang sekarang kosong, kulihat kebun dua generasi bersandingan, sebelah kanan adalah kebun karet yang kuduga akan segera menjadi ladang kosong juga dan sebelah kirinya adalah pohon-pohon karet muda yang ditanam mengikuti tata letak pohon sebelumnya, baru aku sadari keberadaanya, dan pemandangan ini menjelaskan padaku bahwa perlu adanya regenerasi pada kebun karet ini dalam interval waktu yang aku tidak tahu. Aku menduga mungkin dengan alasan bahwa semakin tua pohon, maka produktivitas getahnya semakin menurun. Rasa kesal ku ganti dengan seulas senyum mendapati pemahaman sederhana ini

subhanallah, ini ilmu” kataku dalam hati.

Dan kebun karet pun bertasbih.

Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan.

Sepanjang hari yang ku lalui ini tak ada nestapa yang terjadi. Agar tak putus bersyukur, dalam sisa perjalananku yang masih panjang, aku putuskan untuk berdzikir. Dzikirku cukup mudah yaitu bertasbih sampai pasar Cipeundeuy nanti, dilanjutkan bertahmid sampai simpang empat Sadang, dilanjutkan bertakbir sampai pasar Cikampek dan sisanya bertahlil sampai tiba di tempat tujuan. Wah sungguh hari yang istimewa buatku. Aku perkirakan akan tiba di Cikampek saat maghrib, maka aku tidak akan berbelok kiri mengambil jalur alternatif seperti saat aku berangkat, melainkan mengambil jalur lurus ke arah pasar cikampek.

Segera aku praktekkan rencanaku sesuai waktu dan tempatnya. Sesekali ku ambil hape untuk melihat jam berapa sekarang, pukul 17.23 ku lihat hape dan aku sudah tiba di depan STS, sadang terminal square yang tepat berada di pojok jalan. Ku lajukan vario ke arah kanan sambil kulanjutkan membaca takbir. Pelan tapi pasti dan masih diiringi dengan rintik kecil gerimis dan akhirnya di depanku jalur alternatif tadi sudah terlihat.

Beberapa motor hendak berbelok menunggu giliran, sambil tetap komat-kamit aku kembali merogoh saku kiri dan ku lihat jam hape, pukul 17.45. Aku masukkan lagi hapeku. Tapi justru hal ini malah mengundang bahaya yang dapat berujung maut untukku. Pasalnya tanpa diduga bus warga baru yang berada sekitar 15 meter di depanku mendadak berhenti pelan dan ku lihat ada seorang calon penumpang yang berlari mengejar pintu belakangnya. Dalam waktu yang bersamaan, ku masukkan hape ke dalam kantong jaket dan tangan kananku bermaksud mengerem. Namun yang terjadi, tak hanya mengerem, aku malah menambah gas dan motorpun kehilangan keseimbangan, aku panik aku takut menabrak bus besar itu, mataku terbelalak, bacaan “allohuakbar ... allohuakbar ... allohuakbar ... allohuakbar ...” semakin kencang dan keras tambah lagi jalanan licin dan akhirnya membuatku terjerembab jatuh ke punggung jalan, tangan kiri dan kanan menahan jatuh badan ku, dan kurasakan belum sampai aku memasukkannya ke dalam saku, hape itu telah terjun bebas lagi untuk yang kesekian kalinya.

Kaget, shok, terduduk, masih beruntung tak sempat mencium pantat bus itu. Masih beruntung juga dengan cepat aku bisa kembali mengendalikan diriku. Sesaat aku mendengar beberapa orang histeris teriak. Tak lama seseorang dengan pakaian cukup rapi membantu aku berdiri dan juga membantu vario berdiri. Kasihan motor ini, oleh yang bukan ahlinya sudah 3 kali berguling di aspal. Mataku menyusur aspal disekitarku dan ku lihat hape ku tergeletak terbalik tak jauh dari TKP, masih beruntung lagi karena ku lihat layarnya masih menunjukan tanda-tanda kehidupan dan aku tidak perlu beli hape baru.

Astaghfirullah, alhamdulillah. Aku masih diberi keselamatan, aku bangkit berdiri dengan kaki gemetar, dan rasa syukurku terasa begitu lengkap dan sempurna ketika sayup-sayup ku dengar lantunan suara yang sangat aku kenal “allahuakbarullahuakbar......” aku mencari dimana sumber suara itu. Ternyata benar, suara adzan yang berasal dari siaran televisi suasta nasional terkenal dari warung masakan padang, yang tepat didepannya aku jatuh dari vario.

Aku tersenyum, bagaimana aku bisa menggambarkan rasa syukur atas nikmat yang sedang menimpaku. Telapak tangan kananku perih, ku lihat sebagian kulitku mengelupas, namun menyusup halus rasa syukur di hatiku. Aku rasakan banyak mata dari warung-warung pinggir jalan masih mengawasi dengan penuh rasa ingin tahu, apakah korban kecelakaan konyol ini masih bisa bernafas atau harus segera dilarikan ke rumah sakit. Aku ambil teh rasa apel dari tas dan duduk di trotoar, dengan basmalah aku niatkan berbuka puasa dalam keadaan yang cukup aneh. Duduk di pinggir jalan dalam keadaan shok dan takjub, memakai helm, jaket dan celana kotor, plus rasa perih dari kedua telapak tangan yang juga kotor. Ku teguk minuman itu, rasanya segar, alhamdulillah, bisa berbuka puasa sekaligus menenangkan perasaan yang masih tak menentu. Ingin rasanya aku menangis, bukan karena rasa perih di telapak tanganku, tapi karena keindahan yang mengahmpiriku begitu cepat. Tapi tak ada airmata sore itu. Nuansa sendu senja itu, alunan suara adzan itu, membuat aku tersenyum dan perasaanku semakin tenang dan tentram. Gadis kecil yang berada di seberang jalan sana menatapku dengan heran, mungkin dia berfikir, “orang gila dari mana yang setelah jatuh dari motor malah tersenyum?”

Awalnya aku merasa kuat dan akan melanjutkan perjalanan, tapi setelah ku lihat lagi bahwa itu benar-benar warung masakan padang, ku pastikan bahwa itu bukan ilusi gegar otak ringan akibat jatuh, dengan cara menatap satu demi satu piring-piring dalam etalase atas warung itu, dan laparpun kembali memegang kendali. Sebaiknya aku mampir dulu untuk membasuh luka di tangan sekaligus berbuka puasa dengan lebih mahusiawi. Aku tidak mau kejadian konyol barusan terulang lagi hanya karena aku kelaparan.

Ku mulai dengan basmalah. Tangan masih gemetar namun mulut ini masih sanggup membuka lebar-lebar, sendok demi sendok muatan piring itu segera berpindah dengan kecepatan yang cukup aneh. Puji syukurku ya Robbi, hari ini aku masih bisa berbuka puasa, bisa merasakan nikmat yang mungkin jarang orang lain rasakan. Setelah mengisi perut dengan cukup proporsional, maksudnya sesuai dengan porsiku, ku masukkan hape terkutuk pembawa bencana ke dalam tas dan ku pastikan tak kan ku lirik sedikitpun. Dengan basmalah ku lanjutkan perjalanan dan tak lupa aku lanjutkan bertakbir sampai pasar Cikampek. Kemudian ku lanjutkan lagi dengan tahlil sampai halaman gedung MUI Karawang. Alhamdulillah, meskipun jalan Cikampek-Karawang cukup ramai aku berhasil sampai tanpa menambah luka lagi di sisa perjalanan, hanya menyisakan goresan baru pada bodi merah vario, dan bersyukur bahwa aku telah memutuskan untuk berpuasa hari ini.

Belum tentu hal yang kau sukai baik bagimu, malah hanya akan membawa petaka kelak kemudian hari.

Inilah pengalamanku, cukup menegangkan, aku anggap ini peringatan untukku atas ketololanku yang tak punya etika berkendara di jalan. Ketika alam bertasbih pada Tuhannya, maka tak kan ada satu makhluk pun di bumi ini yang dapat menaklukkan dan menentang hukum-hukumnya.

Dari kejadian hari ini, ku tarik beberapa pelajaran.

  • Pelajaran pertama saat kau mau pergi bobo, jangan lupa cuci kaki, baca doa, mimi susu dan tak lupa pake anti nyamuknya
  • Pelajaran kedua, saat punya niat hari ini, lakukan dan jangan ragu sebab kau tak kan tahu hal-hal apa saja yang akan kau dapat
  • Pelajaran ketiga bahwa saat berkendara sepeda motor jenis dan merek apapun, yang di pegang kedua tangan hanya sepasang stang, ingat tangan hanya memegang stang, selain stang hanya benda terkutuk pengundang bencana
  • Pelajaran keempat kalau ingin main hape di jalan saat naik motor, harus dengan kecepatan 10, jangan waktu jalan becek apalagi di depan ada pantat bus yang tiba-tiba berhanti
  • Pelajaran kelima jangan coba-coba pakai rem tangan kanan saat tangan kiri memegang hape, sebab kau tak kan sadar telah melakukan kesalahan, kau baru sadar setelah motor terguling, jatuh terduduk, tanganmu perih dan diiringi nyanyian histeris para penonton di pinggir jalan
  • Pelajaran keenam, boys and girls, please dont try this at home, it’s very dangerous and it’s really stupid sin.

 

 

Iyan Taryana 

23 Oktober 2008

 

 

Nantikan kisah seru selanjutnya ya.

 





Ripiu comments powered by Disqus



Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer