Kisah Sukses Rebecca Owen
komentarRebecca Owen mulai berlatih senam sejak berusia tujuh tahun. Dia sangat berambisi memenangkan medali Olimpiade. Untuk itu, dia biasanya berlatih lima setengah jam dalam sehari, enam hari dalam seminggu, selama sepuluh tahun.
Tetapi untuk terpilih dalam tim Olimpiade, Rebecca harus mempelajari suatu gerakan baru yang sangat sulit yang disebut "Ginga Salto", yaitu terbang lepas dari bar atas kemudian melakukan jungkir balik dengan separuh putaran sebelum menangkap bar kembali.

Rebecca mempelajari gerakan "Ginga Salto" dengan dibantu oleh pelatihnya, Colin. Pelatihnya mengangkat tubuh Rebecca kemudian secara fisik membentuk gerakan "Ginga Salto" sehingga otak mulai mengenal gerakan tersebut.
Rebecca mengatakan, pada waktu pertama kali mencoba melakukan gerakan "Ginga Salto"dia harus berkonsentrasi penuh. Dia merasa cemas dan berpikir tentang kemungkinan berbuat salah. Kemudian, ketika Rebecca mulai melatih gerakan "Ginga Salto" secara fisik, ternyata dia gagal menangkap bar sehingga terjatuh. Dia berkali-kali melakukannya, tetapi tetap gagal.
Lantas, Rebecca mulai menggunakan cara yang berbeda, berupa pendekatan yang lebih radikal, yaitu menggunakan pendekatan visualisasi. Dimana Rebecca tidak lagi melakukan latihan fisik tetapi dia membayangkan secara mental dengan rinciannya dari setiap gerakan "Ginga Salto" secara berulang-ulang, seolah-olah dia telah berhasil menguasai gerakan tersebut.
Ternyata para ilmuwan menemukan, ada wilayah di otak yang menjadi aktif ketika membayangkan gerakan tubuh. Ketika Rebeccca mengulang gerakan tubuh. Ketika Rebecca mengulang gerakan tersebut berkali-kali dalam pikirannya bahwa seolah-olah dia telah berhasil melakukan dan menguasai gerakan "Ginga Salto" tersebut, akibatnya terciptalah suatu rangkaian jalan di sel-sel otaknya berupa jaringan saraf gerakan "Ginga Slato".
Ketika Rebecca melakukan gerakan "Ginga Salto" yang sesungguhnya, akhirnya dia berhasil melakukan gerakan tersebut. Dan semakin dia sering melakukan gerakan tersebut, jaringan sarafnya semakin bertambah tebal sehingga gerakkannya menjadi semakin otomatis karena telah tertanam dalam pikiran bawah sadarnya sehingga dia tidak perlu lagi bersusah payah memikirkan gerakan tersebut.
Sumber: Motivasi Sederhana
Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer


