Membongkar Kegagalan CIA
komentar
Terus terang saya belum membaca buku ini, ini buku lama tahun 2008 yang dulu sempat membuat berbagai pertanyaan di masyarakat, sampai badan-badan pemerintah mengkaji buku ini, berikut ini beberapa artikel yang saya ambil mengenai buku ini. ".... Tim Weiner benar dengan mengatakan bahwa CIA saat ini tak lebih dari puing-puing keruntuhan yang sebentar lagi mungkin berubah menjadi debu." Budiarto Shambazy, wartawan Kompas, kolumnis "Politika"
Mengapa negara adidaya, lembaga spionasenya seperti tak punya daya? Mengapa "polisi dunia", sekaliber AS, agen-agen dinas rahasianya beroperasi serampangan? Inilah keprihatinan mendasar Tim Weiner dalam buku yang memenangi berbagai penghargaan ini sampai pada kesimpulan bahwa sejarah operasi intelijen CIA yang telah berusia 60 tahun justru memangsa bangsa Amerika Serikat sendiri.
Menggunakan langgam reportase jurnalistik yang memikat, Tim Weiner, wartawan peraih Hadiah Pulitzer, menunjukkan bukti-bukti meyakinkan perihal kelemahan CIA yang memalukan. Di antaranya, agen-agen CIA mengetahui Tembok Berlin runtuh pada 1989 dari siaran televisi bukan dari pasokan analisis mata-mata yang bekerja di bawah tanah; ambruknya WTC, yang membelasah pada 11 September 2001, dengan telanjang memeragakan kepada dunia bahwa agen-agen CIA lumpuh dalam mengantisipasi serbuan teroris alumnus CIA sendiri.
Sebagai sebuah dinas intelijen terbesar di dunia, CIA melakukan blunder paling vital dalam sejarah panjang spionase: berbohong tentang eksistensi senjata nuklir Irak. Blunder itulah yang menjadi basis pengambilan keputusan politik yang paling keliru dalam sejarah kepresidenan AS, yakni menyerbu Irak sekaligus menumbangkan Presiden Saddam Hussein.
Buku ini diramu Tim Weiner dengan mempelajari 50.000 arsip CIA, wawancara mendalam dengan ratusan veteran CIA, dan pengakuan sepuluh direkturnya. Disajikan dengan gaya bertutur mengalir. Tim Weiner, bagaikan penulis thriller, menempatkan diri sebagai seorang tukang cerita kelas wahid.
Pertanyaanya, benarkah Adam Malik Agen CIA di Indonesia? Ceritanya begini: CIA ingin memperluas ekspansinya ke Asia Tenggara, makanya CIA menciptakan Ilusi demokrasi dengan starting pointnya di Thailand . Pada 1953, Walter Bedell Smith dan Dulles bersaudara mengirimkan dubes luar negri Amerika ke Bangkok . Wild Bill Donovan, sang dubes menyarankan pada presiden Eisenthower agar amerika membuka pos di Thailand . Akhirnya Donovan memulai aksinya dengan sebuah gelombang besar operasi CIA diseluruh Asia Tenggara yang beranggota 40.000 orang dan komandannya Dubes Donovan (baca ranah Jangkar Di Asia tenggara hlm. 328)
Nah, CIA mengingatkan Gedung Putih bahwa hilangnya pengaruh Amerika Serikat di Indonesia bakal membuat kemenangan di Vietnam tak berarti. Makannya dinas CIA bekerja keras mencari figure pemimpin baru bagi Indonesia . Pada 1 Oktober 1965 terjadilah gempa politik di Indonesia , tujuh tahun setelah CIA berusaha menggulingkan Presiden Soekarno karena lebih Pro pada Soviet yang notabene adalah partai komunis. Soekarno berhasil membesarkan PKI, dan yang pasti CIA butuh figure agen yang punya posisi baik. Adam Malik bertemu dengan perwira CIA, namanya Clyde McAvoy di Jakarta. Avoy seorang operator rahasia yang selama satu decade berhasil menyusup masuk ke Indonesia lewat PKI pada masa pemerintahan Soekarno.
Benarkah Adam Malik Agen CIA? Menurut pengakuan Avoy, ia benar-benar merekrut dan mengontrol Adam Maliksebagai agen CIA di Indonesia . Lebih jauh lagi, Avoymengungkapkan pejabat Indonesia tertinggi yang pernah direkrut adalah Adam Malik. Setelah Adam Malik di rekrut sebagai Agen CIA, dinas mendapat persetujuan untuk meningkatkan program operasi rahasia buat mendorong kelompok politisi kiri dan kanan di Indonesia (baca hlm.330)
Yang menarik dalam buku ini karena Weiner mengungkapkan bahwa Bill Bundy, asisten mentri luar negri timur jauh dan sahabat Green selama 30 tahun memiliki hubungan yang baik dengan Adam Malik. Tak heran kalau Bill kemudian memutuskan bahwa Soeharto dan Kap-Gestapu layak mendapat bantuan Amerika.
Akhirnya CIA sepakat mendukung militer Indonesia dalam bentuk obat-obatan senilai USD500.000 yang dikirim melalui CIA. Green mengirimkan kembali pesan telegram pada Bill Bundy yang merekomedasikan pembayaran uang dalam jumlah cukup besar kepada Adam Malik. Nah, apapun tanggapan orang lain, bagi tim weiner, Adam Malik adalah Agen CIA sesuai data-data dan wawancara yang direkam Weiner pada sejumlah tokoh dan aktifis CIA yang ditemuinnya.
Kalau dari saya sendiri kayanya tidak yakin apa yang dituliskan dalam buku ini. Emang dunia2 intel ruwet kaya di film-film banyak konspirasi dll.
Penulis : Tim Weiner
Cetakan : September, 2008
Tebal : 858 halaman
Ukuran : 13,5 x 20 cm
sumber : http://id.shvoong.com/books/1856549-membongkar-kegagalan-cia-benarkah-adam
Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer


