Mencari Orang Bersih

  komentar


"Sebagai pegawai Departemen Keuangan, saya tidak pernah gelisah dan kalang kabut akibat korupsi. Sementara teman-teman di kantor gelisah dan belingsatan karena tim Inspektorat Jenderal, BPKP, atau BPK datang, saya justru tenang-tenang saja.

Dari awal saya sudah berusaha menanamkan komitmen hidup tanpa korupsi. Saya juga sering ingatkan isteri, bahwa yg penting bagi kami adalah bisa menjalani hidup layak. Bukan berlebih-lebihan seperti memiliki rumah dan mobil mewah.

Nama saya Arif Sarjono. Jabatan saya sampai sekarang adalah petugas verifikasi lapangan atau pemeriksa pajak. Kalau dibandingkan teman-teman seangkatan sebenarnya karir saya bisa dikatakan terhambat antara empat sampai lima tahun. Seharusnya paling tidak sudah menjabat Kepala Seksi, Eselon IV, tapi sekarang baru Eselon V.

Apalagi dahulu di masa Orde Baru, penentangan untuk tidak menerima uang korupsi berarti karir terhambat. Karena saya dianggap tidak cocok dengan atasan, maka kondite saya di mata mereka buruk. Terutama poin ketaatannya.

Banyak pelajaran yang saya petik dari semua pengalaman ini. Antara lain, orang-orang jahat akan selalu berusaha mencari kawan. Bagaimana pun caranya. Mereka menggunakan cara paling halus, pura-pura berteman dan bersahabat. Tapi belakangan, setelah sekian tahun, barulah ketahuan kita sudah dikhianati.

Saya pernah punya atasan. Dari awal ketika memperkenalkan diri, dia sangat simpatik di mata saya. Dia satu-satunya atasan yang mau bermain ke rumah bawahan. Saya dengan atasan itu menjadi seperti sahabat, bahkan seperti keluarga sendiri.

Di akhir pekan, kami biasa memancing sama-sama atau jalan-jalan bersama keluarga. Dan ketika pulang, dia biasa menitipkan uang dalam amplop pada anak-anak saya. Saya sendiri menganggap pemberian itu hanya hadiah saja. Berapalah hadiah yang diberikan pada anak-anak. Tidak terlalu saya perhatikan.

Hingga satu saat saya mendapat surat perintah pemeriksaan sebuah perusahaan besar. Hasilnya saya menemukan penyimpangan sangat besar dan luar biasa jumlahnya. Pada waktu itu, atasan melakukan pendekatan pada saya dengan cara paling halus. Dia mengatakan, kalau semua penyimpangan ini kita ungkapkan, maka perusahaan itu bakal bangkrut dan banyak pegawai yang di-PHK. Anggapannya efek pembuktian penyimpangan itu justru merugikan masyarakat.

Sementara dari sisi pandang saya, betapa tidak adilnya kalau temuan itu tidak dibuka. Sebab sebelumnya segala penyimpangan selalu kami ungkapkan terbuka. Berarti ada pembedaan untuk kasus ini.

Karena dirasa sulit mempengaruhi sikap saya, dia lalu memakai logika lain. Apakah tidak sebaiknya kalau temuan itu diturunkan dan dirundingkan dengan klien, agar mereka bisa membayar dan tetap ada uang yang masuk ke negara. Logika ini juga tidak bisa saya terima. Saya satu-satunya anggota tim yang menolak dan meminta agar temuan itu tetap diungkap apa adanya.

Ketika sudah mentok semuanya, saya dipanggil dan disidang di depan kepala kantor. Dan ini yang amat berkesan sampai sekarang. Ternyata rekayasa untuk menjadikan orang lain tidak bersih memang direncanakan.

Di forum tersebut, secara terang-terangan atasan yang sudah lama bersahabat dengan saya itu menasehati, “Sudahlah, Dik Arif tidak usah munafik.”

Saya langsung menjawab, “Tidak munafik bagaimana Pak? Selama ini saya insya Allah konsisten untuk tidak melakukan korupsi.”

Kemudian ia berterus terang bahwa uang yang selama kurang lebih dua tahun ia berikan pada anak saya adalah uang dari klien.

Mendengar itu, saya sangat terpukul. Saya tidak bisa membalas dengan kata-kata apa pun. Saya menangis dan menceritakan masalah itu pada isteri.

Ketika mendengar cerita saya itu, isteri langsung sujud syukur. “Alhamdulillah. Selama ini uang itu tidak pernah saya pakai,” kata isteri saya.

Ternyata di luar pengatahuan saya uang dalam amplop-amplop itu tidak digunakan sedikit pun oleh isteri saya. Semuanya masih utuh. Termasuk tulisannya masih utuh, tidak ada yang dibuka. Jumlahnya pun saya juga tidak tahu.

Saya menjadi bersemangat kembali. Saya ambil semua amplop itu dan saya bawa ke kantor. Saya minta bertemu dengan kepala kantor dan kepala seksi. Dalam forum itu saya lempar semua amplop itu di hadapan atasan saya hingga bertaburan di lantai. Saya berseru, “Makan uang itu, satu rupiah pun saya tidak pernah gunakan uang itu. Mulai saat ini, saya tidak pernah percaya satu pun perkataan kalian.”

Mereka tidak bisa bicara. Tapi esok harinya, saya langsung dimutasi antar seksi. Awalnya saya di auditor, lantas saya diletakkan di arsip, meski tetap menjadi petugas lapangan pemeriksa pajak sampai sekarang.

Ketika melawan arus yang kuat, tentu saja ada konflik batin dan tarik-menarik dalam hati. Apalagi keluarga saya hidup dalam kondisi terbatas. Tapi, alhamdulillah, sampai sekarang saya tidak tergoda untuk menggunakan uang yang tidak jelas. Saya berusaha untuk tidak jatuh ke dalam korupsi.

Saya berharap akan makin banyak orang yang melakukan jihad untuk hidup bersih. Kita harus bisa menjadi pelopor dan teladan di mana saja. Kiatnya hanya satu, terus menerus menumbuhkan rasa takut menggunakan dan memakan uang haram. Jangan sampai daging kita ini tumbuh dari hasil rejeki yang haram. Saya berharap, mudah-mudahan Allah tetap memberikan kami ke-istiqomah-an."*

***

Saya tercenung membaca pengakuan ini. Teringat peristiwa lebih dari lima belas tahun lampau ketika bapak menasehati saya agar tidak menjadi pegawai negeri. Waktu itu alasannya sangat sederhana. Pertama karena gajinya kecil. Yang kedua karena jangan sampai kamu dimusuhi masyarakat.

Alasan pertama jamak adanya. Namun alasan kedua, inilah yang mengganjal saya, kenapa saya sampai dimusuhi. Bapak saat itu tidak banyak menjelaskan. Saya hanya diam saja sambil berpikir mungkin suatu saat nanti saya bakal tahu sendiri.

Mengikuti saran Bapak maka saya melepaskan kesempatan kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Saya termasuk salah satu dari sekitar dua puluh siswa dari sekolah saya yang lulus ujian masuk STAN. Sekali lagi terngiang ucapan bapak. "jangan sampai kamu dimusuhi masyarakat..."

Kini saya tahu kenapa dulu Bapak menasehati seperti itu. Barangkali Bapak secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa godaan korupsi begitu besar ketika menjadi pegawai negeri. Sehingga saya bakalan jadi tempat hujatan masyarakat ketika ikut-ikutan korup.

Memang tak semua orang pajak korupsi. Tak semua pegawai departemen keuangan korupsi. Juga Tak semua pegawai negeri korupsi. Tapi jika arus sekitar demikian kuat, apakah saya kuat berdiri di tengah pusarannya?

Saya terbayang keringat rakyat. Wajah-wajah kusam mereka sang pekerja keras. Juga semangat dan motivasi kerja mereka. Apakah kita tega menjarah uang dari keringat, semangat, dan harapan mereka?

Lama saya diam, begitu susahkah mencari orang yang benar-benar bersih di negeri ini?

_____________________

* Testimonial diambil dan diedit dari Majalah Tarbawi Edisi 111 Th. 7/Jumadal Ula 1426 H/23 Juni 2005





Ripiu comments powered by Disqus



Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer