novel
komentarCHAPTER 1
AWAL HARI BARU
Pagi itu desa Wajim kembali menampakkan keindahan desa yang biasanya. Maha Suci Engkau Ya Rabbi yang telah menghias desa ini dengan pagi-pagi yang begitu indah. Dimulai dari semburat warna merah di ufuk timur diatas hamparan sawah yang pagi itu masih hijau muda. Matahari mulai bergerak enggan dari peraduannya. Hari yang cerah, musim baru telah bergulir kambali.
Di salah satu rumah, tak jauh dari hamparan hijau padi yang baru ditanam. Dia bangun begitu pagi, tak biasanya anak kecil ini bangun sepagi ini. Tak biasanya semangatnya begitu melambung tinggi. Dia bersemangat seperti ini biasanya kalau ayahnya pulang dengan seabreg buah tangan; makanan, sepatu baru ataupun baju baru atau kalau orang tuanya mengajaknya pergi ke tempat-tempat yang menakjubkan yang belum pernah ia lihat.
Tapi pagi itu ayahnya tidak datang dari tempat yang jauh ataupun orangtuanya mau mengajaknya pergi ke tempat wisata. Pagi itu ayahnya mau mengajaknya pergi ke sederet bangunan berwarna sederhana yang halamannya menjadi salah satu tempat bermainnya. Bangunan yang sangat ia kenal yang ia ingin sekali masuk ke dalamnya, ingin menjadi bagian dari mereka. Tapi ia tahu kalau kesana berarti harus mengikuti aturan yang berlaku disana. Tak ada lagi main kelereng, tak ada lagi main gelatik bahkan mungkin yang lebih menyedihkan tak boleh lagi hujan-hujanan.
Dalam hati dia ragu apakah anak nakal seperti dia mampu mengikuti aturan yang ada, meskipun begitu ia tak pernah mau mengatakan pada orang tuanya bahwa ada sedikit keraguan dalam hatinya.
Yang ia rasakan, ia begitu senang menyambut hari ini, hari yang selama ini ia nantikan. Anak laki-laki yang berusia 6 tahun 9 bulan itu hari ini akan memasuki hari barunya. Kini ia telah resmi menjadi murid kelas 1 SD Marga Indah.
Arya begitu semangat.
Dengan nama itulah ia ingin disapa. Tak sabar ia memakai seragam baru putih-putihnya. Ibunya wanita yang sangat telaten dalam memperhatikan segala kebutuhan anak laki-laki kesayangannya ini.
“Ayo, bu, takut telat nih”, kata Arya pada ibunya dengan sesekali menjejakkan kakinya bergantian.
Setengah berjongkok ibunya sedang memasukkan bagian bawah baju seragam putih ke celananya. “Sabar atuh, ini masih belum rapi.” Kata Bu Siti seraya mempererat ikat pinggang anaknya. Sedangkan ayahnya asik berdiri memperhatikan tingkah anaknya dengan wajah tanpa ekspresi.
Arya hafal dan yakin bahwa ini hari senin, dan anak-anak yang bersekolah di gedung merah putih itu memakai seragam putih-putih hari ini. Ia selalu memperhatikan bahwa ada suatu berpakaian, bahwa senin-selasa seragam putih-putih, rabu-kamis seragam batik dan jum’at-sabtu berseragam coklat-coklat.
Dia tahu dan yakin hari ini, senin, awal tahun ajaran baru dimulai. Setelah berseragam lengkap, ia sandang tasnya, mencium tangan ibunya lalu ia pun mulai berjalan ke tempat yang menyenangkan. Hal apa yang akan ia temui ia tidak tahu, tapi itu pasti hal yang menakjubkan.
Dia barjalan melintasi jembatan kecil diatas sungai yang membagi desanya menjadi dua bagian, barat dan timur. Dia tinggal di bagian timur desanya. Ia berjalan cepat ke arah barat, ke arah dimana sekolahnya berada, dibelakangnya ayahnya berjalan menyeimbanginya. Di seberang sungai, terdapat beberapa rumpun bambu disamping sepetak tanah yang lebih rendah yang kalau musim hujan lebih dahulu tergenang banjir. Tak jauh dari rumpun bambu ada sepetak kebun kopi yang sepertinya tidak begitu dirawat sama yang empunya. Terlihat dari pohon-pohonnnya yang benyak merebah tak beraturan ke kiri dan kanan dan juga tidak tahu kapan persisnya kebun itu panen.
Setelah menyeberang sungai, ayah dan anak itu tidak langsung mengambil jalan ke kiri yang langsung menuju SD tapi mengambil jalan ke sebelah kanan, ke arah rumah kakek-nenek Arya dari ayahnya, karena rumah kakek-nenek dari garis ibu berada jauh di arah utara. Tergesa-gesa, terburu-buru, khawatir akan jadi anak yang terlambat masuk, dia tidak mau terlambat, dia tidak boleh terlambat. Ini hari pertama dia merasakan hidup, hidup sebagai seorang siswa SD. Sampai-sampai dia tak melihat kalau ada akar pohon albasia yang ada di belakang rumah neneknya. Ia jatuh tertelungkup dengan meninggalkan goresan perih panjang di bawah lututnya.
Perih tapi dia tidak ingin menangis, dia tidak boleh menangis lagi, sudah bukan waktunya dia menangis seperti kemarin-kemarin. Uluran tangan ayahnya membantu dia bangkit. Tepukan kecil tangan ayahnya di bagian depan celana putihnya untuk menghilangkan debu dan kotoran tanah.
Untunglah dia tidak terlambat, sesampainya di ruang kelas 1 ternyata sudah ada beberapa anak yang datang dengan orang tua mereka yang menunggu di luar kelas.
Tegang, seperti apa rupa guru-guru di sini? Arya pernah mendengar bahwa ada guru yang galak di sekolah ini. Ibu kepala sekolah yang sudah bertahun-tahun terkenal sering menghukum anak-anak nakal.
Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer


