Sebuah Realita Pendidikan Hari ini
komentarPendidikan hari ini telah banyak diwarnai dengan berbagai pencorengan terhadap moral. Kasus guru-guru yang berbuat asusila, mahasiswa melakukan asusila, tindakan siswa yang melakukan tindakan anarkis, bahkan hingga kasus pembunuhan. Lembaga pendidikan hari ini tidak lagi menjadi sebuah wadah bagaimana mengajarkan tenaga didiknya untuk kemudian dapat memahami esensi dan substansi dari sebuah proses pendidikan. Lembaga pendidikan hari ini lebih tak ubahnya seperti pabrik yang mencetak orang-orang yang haus akan nilai dan gelar kesarjanaan. Lembaga pendidikan hari ini pun bukan lagi sebagai lembaga pengayom moral dan perluasan pengetahuan dimana syarat akan substansi dan esensi dari berbagai materi ajar yang diberikan, tapi lebih kepada bagaimana anak didik lulus dengan suatu peringkat tertentu.
Realita negeri hari ini sangat mencengangkan. Ada 15% masyarakat yang hari ini berada dibawah garis kemiskinan, dan sebagian kecil rakyat yang memang mendapatkan pendidikan yang layak. Di Jawa Timur, seorang siswa yang berprestasi karena keterbatasan dana tidak mampu untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Ironi sekali menjadi orang miskin di negeri ini, padahal UUD 1945 telah menjamin setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Di samping itu, perguruan tinggi ternama pun mulai pasang tarif untuk orang-orang berkocek tebal. Pendidikan bukan lagi tempat orang-orang untuk mencari ilmu, tapi tempat mencetak robot sarjana dengan tulisan di dadanya Sarjana. Orang-orang miskin yang hidup di desa pun mulai menunjukkan keengganan untuk berpendidikan. Himpitan ekonomi yang semakin sulit memaksa mereka berpikir instan untuk mengisi perut mereka walau dengan sesuap nasi, bahkan dengan nasi aking sekalipun. Tragis memang menjadi warga miskin, tapi bukan dalih kemudian ketika miskin untuk tidak mendapatkan pendidikan. Alih-alih ucapan yang kemudian terlontar adalah "untuk apa sekolah, sekolah itu mahal, mending kamu kerja, ngamen atau cari duit". Ironi memang di negeri ini, pendidikan bukan lagi aset bangsa, tapi pendidikan hanya dianggap bagaikan sebuah sistem pencetak robot sarjana.
Lahirnya berbagai kontroversi dari lingkaran penguasa, mulai dari adanya UU BHP yang disinyalkan sebagai sebuah bentuk liberalisasi pendidikan dan akhirnya berakhir dengan ditolak oleh MK. Ujian Nasional yang telah disahkan oleh MK untuk dihentikan, namun para penguasa tetap bersikeras untuk melaksanakannya, hingga banyak siswa yang konsen sekali mendapatkan nilai tapi bukan konsen pada pengetahuan itu sendiri. Kontroversi-kontroversi tersebut disinyalir sebagai adanya usaha pemerintah untuk lepas tangan dari proses pendidikan yang ada. Selain itu juga, sang penguasa terlalu memaksakan berorientasi pada nilai bukan pengetahuan bebas yang bisa diserap oleh siswa. Aneh memang jika kita rasakan pergulatan tentang kebijakan pendidikan. UU BHP yang membuat komersialisasi pendidikan, dan UN yang belum mampu melahirkan
Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer


