Permainan dan Mainan

  komentar


Johan Huizinga, seorang profesor, teoritisi budaya dan sejarahwan Belanda pada tahun 1938 menulis sebuah buku Homo Ludens; a Study of Play Element in Culture yang mempopulerkan istilah Homo Ludens untuk menyebut manusia sebagai “makhluk bermain”, makhluk yang suka bermain atau menciptakan permainan. Saya tidak berniat untuk mengupas teori Huizinga. Namun saya ingin menunjukkan sebuah perubahan sosial budaya dilihat dari perubahan tipikal permainan yang ada dalam masyarakat.

Fenomena pergeseran jenis permainan dalam masyarakat menjadi penting untuk dicermati mengingat pergeseran ini merupakan cermin dari perubahan sosial budaya masyarakat itu sendiri. Ada semacam kegelisahan mengenai punahnya berbagai macam permainan dan mainan tradisional. Sudah sangat jarang ditemui, terutama di masyarakat perkotaan, anak-anak bermain gatrik, gobak sodor, galah, petak umpet, dan sejenisnya atau membuat mainan dari bambu, kayu, daun, kertas, dan lain-lain.

Berbagai permainan dan mainan tradisional itu berganti dengan permainan modern seperti game komputer/online, Play Station, Nintendo atau mainan buatan pabrik yang dihasilkan secara massal dan seragam. Jika kita cermati, pada permainan tradisional cenderung melibatkan banyak orang yang berinteraksi secara fisik, sedangkan dalam permainan modern walaupun masih tetap bisa melibatkan banyak orang, tetapi tidak terjadi interaksi secara fisik diantara pelakunya. Bahkan pada permainan modern tertentu, hanya memerlukan 1 (satu) orang manusia, karena lawan/kawan bermainnya adalah mesin, komputer.

Pola permainan tradisional yang melibatkan banyak teman sebaya merupakan sarana sosialisasi yang baik: bagaimana mereka memahami karakter lingkungan sosialnya dari karakter masing-masing mitra bermain dalam permainan itu. Pola permainan tradisional mengandalkan interaksi dan interelasi antar manusia, sedangkan pada permainan modern interaksi dan interelasi itu disubtitusi dengan mesin. Ini kondisi yang banyak disebut dengan kondisi post-human. Pun demikian dengan mainan tradisional, cenderung melibatkan unsur yang sebagian besar telah tersedia di sekitar kita dan membutuhkan kreatifitas dan daya adaptasi untuk menciptakannya.

Mainan tradisional merupakan sarana yang baik untuk belajar beradaptasi terhadap lingkungan serta sarana untuk merangsang daya kreatifitas dan imajinasi. Berbeda dengan permainan modern hasil produk pabrik, kita hanya tinggal pakai saja, tak ada unsur adaptasi terhadap lingkungan dan kreatifitas yang dipacu, tinggal unsur imajinasi yang bermain. Tak ada lagi pengenalan jenis-jenis bambu yang bisa dipake untuk membuat pistol-pistolan misalnya, atau daun yang bisa dipakai untuk membuat perahu layar. Bahkan ada kecenderungan manusia modern (atau postmodern?) dengan segala pola kehidupannya yang sedemikian berorientasi material memandang bermain itu hanya membuang waktu dan tenaga.

Daripada bermain, lebih baik digunakan untuk kerja, demikian agaknya prinsip kebanyakan manusia modern. Oleh karena itu pola kebudayaan sekarang ini menjadi sedemikian kering. Hari-hari dipenuhi dengan aktifitas kerja untuk menghasilkan materi, bahkan walaupun pulang ke rumah, sedemikian banyak agenda “yang tidak menyenangkan” telah siap menyambut. Praktis jarang sekali (jika bukan tidak ada) manusia modern bermain-main. Padahal, jika tesis Huizinga benar, maka ketiadaan permainan dalam kebudayaan modern berpotensi menghasilkan “ruang kosong” kebudayaan.

Firman Allah : “Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertaqwa, (maka) Allah akan memberikan pahala kepadamu, dan Dia tidak meminta harta-hartamu”. (Q.S Muhammad : 36). Ingat..Permainan, tapi bukan main-main! Dalam permainan tentu ada strategi, aturan, pemenang, pengalah, batas waktu. Tapi jangan lupakan unsur menyenangkannya, “senda gurau”-nya. Apakah senda gurau berarti tidak serius? Kata siapa? Jika kini banyak manusia modern yang mempermainkan orang lain, mempermainkan hukum, mempermainkan agama, bahkan mempermainkan dirinya sendiri, mungkin karena kebanyakan dari manusia modern dalam kehidupan sehari-hari tidak pernah/jarang melakukan permainan. Padahal bermain adalah sifat dasar manusia yang bertujuan untuk mendapatkan kesenangan.





Ripiu comments powered by Disqus



Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer