Pulau Gunkanjima. Pulau dan Kota Mati di Jepang

  komentar


Pulau Gunkanjima yang dalam bahasa Jepang berarti pulau Kapal Perang (Gunkan artinya Kapal Perang dan Shima artinya Pulau), atau 'Battleship Island' dalam bahasa Inggris, adalah julukan untuk pulau terpencil di lepas pantai Jepang yang berbentuk seperti kapal perang jika dilihat dari penampakan siluetnya.

Jika di Indonesia banyak pulau yang belum di huni, tapi Pulau ini sebaliknya ini adalah bekas hunian manusia yang sedikit demi sedikit 30 tahun yang lalu meninggalkan pulau tersebut. Akhir tahun 1950 – an, Gunkanjima sebuah pulau kecil di barat daya Nagasaki, Jepang, merupakan wilayah yang paling padat penduduknya di dunia. Sekitar 5000 orang tinggal di areal seluas 480 meter kali 150 meter itu, sebagian besar dari mereka adalah pekerja tambang batu bara di bawah permukaan pulau. Tahun 1959 kepadatan penduduk di Gunkanjima menjadi 835 orang per hektar dan 1.391 orang per hektar di pusat permukiman.

Pada awalnya pulau itu dikenal dengan nama Hashima. Ketika tahun 1800 ditemukannnya tambang batu bara membuat pulau ini dibeli oleh perusahaan Mitsubhisi dan mulai semakin meningkat penduduk yang tidak lain para penambang batuwara. Pulau ini sempat mempunyai penghuni untuk 87 tahun, sejak tahun 1887 sampai dengan 1974

Pulau ini biarpun sangat sempit tetapi dilengkapi dengan berbagai fasilitas hidup bagi karyawan tambangnya yang mencapai ribuan, berikut dengan anggota keluarganya masing-masing. Fasilitas itu mencakup asrama / apartemen, sekolah, pasar, pemandian umum, dll. Merupakan suatu keajaiban bahwa pulau sekecil itu bisa menyediakan fasilitas selengkap itu.

Ketika masa puncak kejayaan pada saat aktivitas tambang di pulau ini sedang berjalan, populasi jumlah penduduknya mencapai 10 kali lipat populasi penduduk Tokyo, ibukota Jepang, dan dikategorikan dalam titik dengan populasi penduduk tertinggi di dunia. Ketika tahun 1959 misalnya, populasi penduduk di pulau tersebut mencapai 835 orang per hektar (83.500 orang per km persegi), sama dengan 216.264 orang per mil persegi.

Seiring dengan digesernya pemakaian batubara oleh bahan bakar minyak sejak 1960-an, maka aktivitas tambang pun mengalami penurunan, sampai dengan akhirnya Mitsubishi terpaksa menutup kegiatan eksplorasinya di pulau ini ketika tahun 1974. Penghuninya pun terpaksa harus kembali ke kampung halamannya masing-masing yang berada di berbagai penjuru Jepang, dan kemudian pulau ini dibiarkan kosong tak berpenghuni, sampai dengan hari ini. Pulau ini pernah ditutup untuk umum, akan tetapi baru dibuka kembali untuk pariwisata. Entah kenapa pulau ini dikhabarnya mempunyai situasi yang sangat menakutkan.

Bangunan gedung-gedung yang lebih mirip dengan gedung Hantu :)

 

Sisa-sisa perabot rumah

 

Foto-foto pulau lainnya

 

 

diambil dari berbagai sumber.

 





Ripiu comments powered by Disqus



Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer