Asia Masih Pasar Terbesar Jepang

  komentar


TOKYO - Ekspor Jepang untuk keempat kalinya berturut-turut meningkat pada Maret lalu seiring pulihnya perekonomian global yang mendorong permintaan produk kendaraan bermotor dan perangkat elektronik.

Data Kementerian Keuangan Jepang kemarin menyatakan, ekspor Negeri Sakura pada Maret melonjak 43,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, atau setara dengan 6 triliun yen (USD63,5 miliar).

Ekspor terbesar Jepang masih didominasi pengiriman ke kawasan Asia yang dalam beberapa bulan terakhir menjadi tumpuan pertumbuhan ekonomi dunia.

“Eskpor ke Eropa turun 27,6 persen sementara ke Amerika Serikat (AS) melemah 22,7 persen menjadi hanya 9,3 triliun yen,” kata pejabat Kementerian Keuangan Jepang di Tokyo kemarin. Sebagai perbandingan, ekspor Jepang ke AS pada Februari lalu naik 50,5 persen.

Ekspor Jepang ke Asia, yang menyumbang setengahnya ekspor Jepang, pada  Maret lalu naik 52,9 persen dibanding tahun sebelumnya. Khusus ke China, ekspor dari Jepang hanya naik tipis menjadi 47,7 persen dari bulan sebelumnya 47,6 persen.
Kendati demikian, pengiriman barang ke China telah menggeser AS sebagai destinasi utama produk Jepang dengan nilai ekspor mencapai 11,3 triliun yen.

Sementara impor Jepang secara keseluruhan menguat 20,7 persen menjadi 5,06 triliun yen dipicu naiknya harga komoditas minyak dan bahan baku metal.

“Data pemerintah menunjukkan bahwa ekonomi Jepang masih sama, yakni tergantung pada ekspor terutama ke Asia,” kata Kepala Ekonom RBS Securities Jepang Junko Nishioka, seperti dilansir dari AFP, Jumat (23/4/2010).

Membaiknya perekonomian dunia membawa harapan baru bagi kembali tumbuhnya ekonomi Jepang setelah tahun lalu hancur akibat ekspor yang melamah. Ekspor Jepang pada 2009 anjlok 17,1 persen menjadi hanya 59,01 triliun yen (USD634 miliar), penurunan  terbesar dalam 30 tahun terakhir.

Dalam laporan lainnya, Pemerintah Jepang juga mengumumkan surplus perdagangan Jepang pada Maret lebih besar dari yang diperkirakan yakni mencapai USD10,2 miliar. Hasil ini lebih baik dibanding tahun sebelumnya yang defisit 5,4 miliar yen.

“Jepang mendapatkan keuntungan dari sehatnya perekonomian Asia khususnya China,” kata ekonom senior NLI Research Institute Taro Saito. “Ekspor ke Eropa dan AS sedikit menurun sehingga Asia akan menjadi sangat berpengaruh,” tambahnya.

Hanya saja, pemulihan ekonomi Jepang hingga saat ini masih diganggu lemahnya konsumsi domestik akibat turunnya upah pekerja dan ancaman deflasi yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Surat kabar Yomiuri melaporkan, Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BOJ) sendiri memperkirakan harga konsumen Jepang akan menguat sebesar 0,2 persen untuk tahun ini hingga Maret 2012.

Jika BOJ benar-benar memunculkan prediksi indeks harga konsumen, dampak ke pasar harus dibatasi karena tidak akan ada ide untuk menaikkan suku bunga dengan segera karena deflasi tetap ada," ujar analis Morgan Stanley Atsushi Ito.
(Yanto Kusdiantono/Koran SI/ade)

sumber http://economy.okezone.com/read...





Ripiu comments powered by Disqus



Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer