Bank Dunia: China Salip Negara Besar di Eropa

  komentar

text TEXT SIZE :  
Logo Bank Dunia. Dok Bank Dunia

WASHINGTON - China berhasil menyalip negara-negara besar Eropa dalam perubahan hak voting di Bank Dunia pada pertemuan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) kemarin. Hak suara China naik ketika negara maju sepakat memberikan pengaruh yang lebih besar kepada negara berkembang.

Reuters melaporkan 186 anggota Bank Dunia sepakat meningkatkan hak suara beberapa negara berkembang dari 3,13 persen menjadi 47 persen. Akibatnya, hak suara China berada di bawah Amerika Serikat (AS) dan Jepang, tapi di atas Jerman, Inggris, dan Prancis. Sementara, hak suara Afrika Selatan (Afsel) berkurang.

“Saham China telah naik karena China mengalami peningkatan dalam perekonomian dunia,” kata Presiden Bank Dunia Robert Zoellick dalam konferensi pers pada akhir pertemuan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF), seperti dilansir dari Reuters, Senin (26/4/2010).

AS berhasil mempertahankan hak suaranya sebesar 16 persen. Sementara, Jepang mengalami penurunan hak suara menjadi 6,84 persen. Hak suara China naik dari 2,77 persen menjadi 4,42 persen. Kenaikan hak suara China menggambarkan status Negeri Panda sebagai negara dengan perekonomian terbesar ketiga di dunia.

Perubahan hak suara juga diikuti oleh penambahan modal sebesar USD1,6 miliar. Sebagai kesepakatan tambahan, 186 anggota Bank Dunia juga sepakat untuk penambahan modal sebesar USD3,5 miliar.

Ini merupakan penambahan modal pertama dalam 20 tahun terakhir. Tujuan penambahan adalah meningkatkan kemampuan kucuran pinjaman selama krisis keuangan.

“(Perubahan) ini hanya menggambarkan realitas, dan saya percaya institusi multinasional harus bisa merefleksikan realitas, sebab jika tidak dia akan ketinggalan jaman,” ujar Komisi Pembangunan Uni Eropa (UE Andris Piebalgs kepada Reuters.

Tapi, perubahan kekeuasan ini tidak berlansung secara mudah. Tensi negosiasi terus memanas pada beberapa bulan terakhir. Beberapa negara sangat enggan memberikan kenaikan hak suara negara berkembang dan beberapa lainnya ingin mempertahankan hak mereka.

Menteri Keuangan Rusia Alexei Kudrin menjelaskan, kesepakatan baru Bank Dunia, yang setuju meningkatkan kepemilikan negara berkembang, menggambarkan konsensus anggotanya.

“Rusia berhasil mempertahankan kuotanya sebesar 2,77 persen, tapi beberapa negara harus menghadapi fakta mengalami penurunan kepemilikan. Kami mengerti tidak mudah (menerima perubahan) bagi negara-negara tersebut, tapi ini adalah konsensus negara berkembang harus mendapatkan hak suara yang lebih besar,” ungkap dia.
(Achmad Senoadi/Koran SI/ade)

http://economy.okezone.com





Ripiu comments powered by Disqus



Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer