Pesan Sakral Kelulusan
komentar
Pesan sakral kelulusan
Sebagai kompasianer yang ikut merasa prihatin atas penyelenggeraan satuan pendidikan selama ini, terutama perihal pelaksanaan UNAS, ujian Nasional, walaupun bukan sebagai ke-mutlakan dalam menentukan kelulusan, namun telah memperkosa kemerdekaan dan hak asasi manusia, sehingga terutama yang kelas penghujung seperti tidak ada pilihan lagi kecuali totalitas mempersiapkan Unas. PIHAK-PIHAK yang merasa kuasa dan berkompeten dalam regulasi pendidikan menutup mata atas semua isu dan masalah-masalah yang ada, ini sangat disayangkan. Apa menunggu seperti kejadian mbah priok baru dirubah kebijakan tersebut. Apa kualitas bisa meningkat dengan jalan yang selama ini. Atau malah justru terpuruk, terutama pada sisi mental. Allah saja jelas menerangkan dalam AlKitabNya, “bahwa jalan Kebenaran Al-HaqNya hanya Satu yang disebut dengan Shiratal Mustaqim”. Namun demikian tidak memaksa manusia untuk patuh kepadaNya. Allah hanya menegaskan, “Sya menciptakan manusia dari nutfah, mau memilih jalan taqwa atau fasiq terserah”. Ingin sesat monggo, mau selamat ya..ayo..” begitu. Tapi….
Kompasianer yang berbahagia dibawah ini merupakan “pesan sakral” kami terhadap anak didik kami, karena memang ada beberapa ditempat kami yang harus melakukan ujian ulang yakni 2,7 % dari 376 siswa. yang mana pengumuman yang kami lakukan dengan model langsung dan terbuka.
Kepada.
Anak-anakku siswa kelas XII dan kelas IX
tahun pembelajaran 2009-2010
Satuan pendidikan semestinya didirikan dengan maksud memamnusiakan manusia dan tujuan mempersiapkan dan membentuk kader-kader yang secara mental-spiritual memiliki kesiapan menghadapi gejolak dunia dengan disertainya pengetahuan dan teknologi yang tidak berorientasi pada angka-angka. Namun memurnikan ketaatan kepada Allah. Niat, tekad dan tujuan hidup dan kehidupan dengan segala dinamikanya yang jika, kita telaah memerlukan koreksi dan praktek kebenaran di atas jalan AL-HAQNYA, dan dalam kacamata batin kami sudah saatnya, “ja’al haq wa zahuqal batil” mengambangnya watu item dan tenggelamnya gabus. Menampakkan Al-Haq (Haq Mutlak Dzatullah dan Haq-haq Junjungan Nabi SAW), dan tenggelamnya yang bathil (yang tidak sejalan dengan Kehendak Allah Swt) bahwa perihal dunia saat ini akan segera berakhir diganti dengan zaman yang sejalan di atas Kehendak Allah. Namun akan banyak memakan korban, dan yang terselamatkan adalah mereka yang (niat, tujuan) berada dijalan kebenaran dan memurnikan ketaatan. Kebenaran tujuan, kebenaran niat kebenaran perilaku dan tingkah laku yang sesuai dengan Kehendak Allah, maksudnya ada Dzikrullah dan kebersandaran di dalam hati nuraninya.
Satuan pendidikan semestinya, diselenggarakan dengan prinsip implementasi atas ajaran AL-KITAB (ayat-ayat baik yang dibacakan, diperdengarkan dan yang diperlihatkan dan ditampakkan sebagai petunjuk yang jelas dan kongret dapat menghantarkan kepada MengadaNya Diri Dzatullah, Yang Al-Ghayb), AL-HIKMAH (kepandaian mengadili diri, mengkoreksi diri, melihat kelemahan diri, kekeurangan diri, sifat dan watak syukur, amanah, zuhud, qana’ah), dan AN-NUBUWAH (‘Alimul Ghaybi wasy-syahadati, Cahaya TerpujiNya Dzatullah, Yang Al-Ghayb, Allah AsmaNya. Al-”Ilm adzdzikr, inilah ajaran semua nabi dan rasul sejak nabi Adam sampai Nabi Muhammad) sebagai perwujudan ajaran inti AD-DIIN (makna patuh, tunduk dan berserah diri totalitas lahir dan batin. Ad-Diinul Haq, Ad-Diinul Qayyim, dan Ad-Diinul Khalis), dari yang berwenang menunjukkan bagaimana dzikrullah bilGhayb terrsebut, dari mata rantai yang tidak terputus sampai kepada Sayyidina Ali, RA dari Nabi Muhammad SAW, hatta yaumil qiyyamah membebaskan kebodohan jahiliyah, baik yang lahir dan yang batin. Yang mengimplementasikan hal yang mendasar perihal ajaran DZIKR, yakni, “Dan ingat Tuhanmu (didalam rasa hati nurani) dalam totalitas dirimu (lahir (tindakan, pengucapan, pemikiran) dan batin (niat, bersandar), dengan merendahkan diri (mengalah, menghargai, mengakui kekurangan diri, kelemahan diri, ketidak berdayaan diri, dll) dan rasa takut (atas tercampur aduk dengan kebatilan, nafsu ke-akuan, kepentingan), dan dengan tidak mengeraskan suara (ingat ada di dalam hati, tidak dalam pengucapan, sebab Dzat hanya dapat disentuh dengan Rasa. Termasuk ucapan-ucapan yang diniatkan pamer; riyak, sumah, takabur dan ujub)), di waktu pagi dan petang (saat masih sehat, ataupun sakit saat masih muda atau telah tua, setiap saat, waktu, dalam segala pemikiran, tindakan) dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai (mudah terbawa arus nafsu kepentingan-kepentingan golongan, partai, kelompok)”
Satuan pendidikan semestinya diatas sebuah orientasi PARADIGMA YANG DIKEMBANGKAN menjadi sebuah visi, misi, dan tujuan yang yang jelas, kongret bahwa proses mulai dari niat, sampai dengan tujuan merupakan realitas kesadaran yg didasarkan atas pemahaman kebutuhan konteks kebersandaran sehingga disebut ikhlash. TAHU DIRI. Sebuah proses kesadaran yang berporos pada pemahaman “siapa mengetahui jati dirinya, maka mengetahui tuhannya” Membebasakan diri dari kebodohan nafsu keakuan, walau tetap dengan cara dan methode yang sistematik, sestemik, terorganisir. Profesional. BERADAB. Kesadaran sebagai hamba Allah yang berorientasi kepada pola dan sistem mendidik “adabillah”, adab sebagai hamba yang berada ditengah-tengah masyarakat, Berpengetahuan dan terampil yang di orientasikan pada merdeka sejati lahir dan batin, kekeluargaan yang diikat dengan mahabbah bi rauhillah sebuah ikatan yang tidak didasarkan atas kepentingan kepentingan nafsiyah; materi, jabatan, yang merupakan ikatan sesaat. Namun didasarkan atas ajaran Al-Haq, pada Ad-Diinul Haq, ad-Diinul Khalis dan ad-Diinul Qayyim sebagai DIINULLAH. walayah AL-HAQ, sebagai referensi yang mutlak. Maka inti semua ajaran yang disemua agama disebut dengan AL-KITAB adalah wahyu perihal An-Nubuwah, perihal MengadaNya Dzat Tuhan. Maka dikatakan sama antara kitab yang diturunkan, yakni “mereka yang mengimani Al-Kitab yang diturunkan kepadamu Muhammad dan Al-Kitab yang diturunkan kepada Nabi dan rasul sebelummu”
Satuan pendidikan semestinya yang menjadi bagian dari rangkaian terbentuknya kader al-arif billah, kader yang berada pada orientasi berfungsinya lahir atau jasad dengan melaksanakan tatanan syariat dan tatanan lahir lainnya; bersosial, bermasyarakat, bertata negara namun keseuanya sebagai kendaraan/alat cita-citanya hati nurani, ruh dan rasa menggapai cita-cita untuk dapat sampai kepada Tuhannya. sehingga dalam percepatan agar memliki kesiapan mental siap tidak dalam bayang-bayang kepentingan, kepentingan pribadi, kepentingan golongan apalagi kepentingan politik, apalagi kepartaian maka, memerlukan “skill kesadaran” yang berporos pada AD-DIIN tersebut, hal ini manakala baik perseorangan, atau sekelompok SDM masih bias, distorsi (indikator perilaku yang belum singkron antara pengucapan dengan tindakan) atau mereduksi dhawuh (tampak belum menyatunya secara harmonis, serasi, selaras, seimbang antara fungsi-fungsi manajenem dengan fungsi-fungsi adminitrasi. Antara kesadaran dengan realitas) sehingga tampak, sadar ataupun tidak sadar memperlambat terhadap kesadaran diri sendiri atas kesadaran Al-HAQ di dalam dirinya dan keterlibatan terhadap wujudnya cita2, maka dalam pembentukan kedewasaan berpikir dan kedewasaan bertindak akan terus di alamkan pada wujud “kelinci percobaan” seperti permainan “embek-embekan”, kalau belum merasa kalah maka akan terus di pithing, sampai bilang atau mengkode “pasrah. Bagaimana jika tidak bersedia pasrah. Tentu pemithingan tersebut berlanjut. Artinya yang namanya cobaan, “sesungguhnya Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa (yang di angan-angan, bisikan-bisikan yang masuk dan keluar) yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu (didalam hati apakah yang berfungsi sanubari ataukah nuraninya) . Allah Maha Mengetahui isi hati.” (Al-ayah)
Satuan pendidikan semestinya dengan berbagai permasalah yang ada, memang harus dihadapi dengan profesional, demikian pula mutu pendidikan dari kualitas dan kuantitas lulusannya dicari solusi penyelesaian dengan langkah-langkah manajemen dan administrasi yang baik? Baik dalam pengertian dan pemahaman pada “AL-HAQ” dengan mengedepankan atas terwujudnya kebersamaan, kekeluargaan, saling memberi, saling menerima, saling mengisi, saling mengingatkan dengan tetap dalam keterjagaan hati nurani karena sesungguhnya berbagai masalah yang ada adalah guna, “supaya jangan kamu berduka cita atas apa yang luput dari kalian dan jangan kalian terlalu gembira terhadap apa yang Dia berikan dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membagakan diri”. (al-ayah) Sehingga berbagai masalah yang ada (yang merupakan masa lalu, masa kini, masa akan datang) adalah untuk membuka pemahaman dan kesadaran kita semua perihal bagaimana pendidikan diorientasikan sebagai pendidikan yang berkarakter dan pendidikan dalam nilai-nilai? karakter dan nilai yang memiliki orientasi yang jelas dan kongret, bersentuhan dengan hal yang mendasar dan esensi tentang kemanusiaannya, tegasnya tentang mati selamat, kembali kepada Diri Dzarullah.
Kekecewaan dan sedih, sebagai manusia mungkin menghinggapi bagi kalian yang tidak lulus dan kebanggaan dan kesenangan juga melekat kepada kalian yang lulus. Namun perlu saya tegaskan. Kesedihan dan kebanggaan yang didasarkan atas lulus dan tidak lulus diletakkan pada angka-angka belaka, maka jelas akan menjadi racun bagi mereka yang niatan hidup dan niat ibadah, bahwa segala kehidupan dunia dengan dinamikanya ini adalah tuhu guna memproses setiap diri untuk dapat merasakan kebahagiaan yang bersifat murni dan sejati dan saat sewaktu-waktu masa pakai jasad habis, dapat kembali kepada Allah dengan hati yang selamat.
Tegasnya orientasi pada angka-angka adalah wujud dari salah satu salah niat dan salah tujuan dan sebagai wujud kemusyrikam. Sekali lagi kemusyrikan!!!.
Dalam Q.S Yusuf ayat 108 Allah berfirman
katakanlah inilah jalanku (dhahiru syari’at wa batinuhu hakikat. Lahir ada tatanan syareat, tatanan yang sesuai dengan kehendakNya dan batin adanya tatanan hakekat yakni berfungsinya hati nurani, rasa lidzikri), aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang Nyata (Keberadaan sang utusan yang mewakili yang membuka MengadaNya Dzatullah, dengan sebenar-benarnya AlHaqNya), Maha Suci Allah (dari segala bentuk dan wujud yang mengotori hati, segala tujuan hal yang bersifat materi dan keduniaan), dan sama sekali bukanlah aku dari golongan orang-orang yang musyrikin (salah tujuan, salah niat).
Belajar dan berkarya demi li’ila kalimatillah adalah ketekunan, kesungguhan dengan terus menerus memperbaiki diri dengan membentuk karakter dan penjiwaan belajar yang menjadi bagian dari terbentuknya dan terwujudnya budaya dan karakter belajar dalam setiap diri, sebagai perwujudan al-faqir. Kebutuhan yang kuat sebagai hamba Allah atas penghambaan, kebergantungan, kepasrahan kepada-Nya, dengan niat dan tujuan dapatnya kembali kepada Diri Dzat Yang Al-Ghayb, yang Allah NamaNya. Jelasnya bahwa bagi siapa saja yang menghendaki “wa man kaana yarju’ liqaa-a Rabbika”, belajar, bekarya dan bekerja adalah kebutuhan karakter. Semua aktifitas hidupnya untuk dapat kembali kepada Allah, maka belajar, berkarya dan bekerjanya adalah demi mendekat kepadaNya, mengenali keberadaanNya dengan sebenar-benarnya kenal Al-GhaybNya. An-Nubuwwah. Sebagai ayat-ayat atas Mengada-Nya.
Dan didalam Qur’an Surat Al-Fath 26 Allah berfirman yang artinya
Dan ketika orang-orang yang kafir (tidak percaya dan menutup diri dengan gengsinya, kesombongannya, arogansinya, benarnya menurut diri sendiri, gampang mengeluh, gampang su’udhan, mudah berprasangka, gampang memperolok dan melecehkan orang lain, merasa benar, sehingga mengakibatkan tertutup atas adanya kebenaran Al-HaqNya adalah Benarnya niat dan tujuan adalah kembali kepada Allah dengan mengenali pintunya mati adalah mengenali akherat adalah mengenali jati diri fitrah manusianya adalah mengenali fitrah Allah yang asal fitrah hekekat fitrah manusia dari fitrah Allah adalah dengan mengenali Allah dengan sebenar-benarnya mengenli dalam rasa hati nurani yang berfungsi adalah mengenali Kebaradaan Diri Dzatullah), orang kafir ini menanamkan dalam hati mereka (diri mereka sendiri) kesombongan jahiliyyah lalu Allah menurunkan, meletakkan ketenangan kepada RasulNya, dan kepada orang-orang mukmin (yaitu mereka yang berimannya kepada Allah bil-Ghaybi, Satu-satuNya Dzat Yang Wajib WujudNya Yang Allah NamaNya. Al, menunjuk pada Keberadaan-Nya adalah makrifat, jelas. Dan Ghayb menunjuk pada mufrad, tunggal Hanya Diri Dzatullah), dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat Taqwa (kalimah Laa ilaha illa Allah, kemestian ucapan disertai dengan kandungan makna yang dimaksud. Bahwa tidak ada sesuatupun tempat kembali, tempat bergantung, tempat tujuan kehidupan, bahkan yang dicintai dalam rasa hati kecuali KEBERADAAN Diri Dzat Yang Mutlak AdaNya, Wajib WujudNya, Allah NamaNya) dan adalah mereka berhak dengan kalimah taqwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Kekarepan lan tujuan kosong minangko wujud kelawan asma tanpa rupa koyo dene angawang-ngawang, angen-angen tanpa wujud. Ngelak kepingin ngombe tanpa banyu, pingin wareg tanpa mangan, mangan tanpa rupo.
Pesan dari saya sebagai bagian dari salah satu pengasuh dan sekaligus juga sebagai guru, ini semata-mata demi “li’ila kalimatillah” tegaknya kalimah taqwa sebagai ad-dinul haq. Ad-dinul qayyim, ad-diinul khalish. Bahwa kebanggaan kami kepada kalian sama sekali tidak didasarkan atas label lulus ataupun tidak lulus namun lebih pada wujud sikap dan kesungguhan dalam membangun kesadaran sebagai hamba Allah yang terus menerus tidak jenuh, tidak waleh, tidak putus asa dalam memperbaiki akhlak dan perilaku yang ilahiyah. Wujud karakter yang berorientasi kepada proses kesadaran bertuhan; maka karakter belajar akan menjadi bagian dari penjiwaan jiwa al-faqir. Ikhtiyar dan usaha disertai dengan permohonan yang kuat atas kepasrahan menyerahkan diri kepada-Nya, bahwa Tuhan Maha Mengetahui, Tuhan Maha Kuasa, tuhan Maha Pemurah, Tuahan Maha Penyayang. Belajar seperti jiwa yang dimiliki oleh para Nabiyullah, Rasulullah, wali Allah, para kekasih Allah yang tidak ada kekhawatiran dan tidak gundah gulana dan tidak bersedih hati selama tuhan masih membuka pintu rahmatNya dan pintu maghfirahNya.
Beragama, dalam walayah Ad-Diin merupakan perintah atas tegaknya kesadaran addiin Khalish, sebagai perwujudan kepatuhan dan ketundukan, guna memerdekan Rasa Hati (nurani) dari satiap diri dari jajahan nafsu, jajahan syetan dan jajahan iblis yang dibisikan kedalam dada manusia dari golongan jin dan manusia (al-ayat)
Demikian semoga dapat mendorong atas kesadaran memanusiakan manusia sebagai hamba Allah.
26 April 2010
Kompasianer
Tanjung Al-Faqir
sumber http://edukasi.kompasiana.com/2010/04/27/pesan-sakral-kelulusan/
Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer


