Jurnalis Sepak Bola Menggocek Berita

  komentar


Pernahkah kita mendengar atau membaca kata-kata: counter-attack, blunder, assist, handsball, derby, heading, offside, clean-sheet, hattrick dsb? Itulah sebagian kata-kata asing (bahasa Inggris) yang kerap hilir-mudik dipakai para jurnalis kita dalam meliput event sepak-bola.

Apa yang salah dengan pemakaian kata-kata tersebut? Tidak ada yang salah. Tapi tampaknya, jurnalis sepak-bola kita sedikit berutang-budi dengan penyerapan kata-kata khusus olah raga yang tidak mudah menemukan padanan katanya ke dalam bahasa Indonesia.

Perhelatan sepak-bola dunia empat tahunan 2010 di Afrika Selatan tinggal hitungan hari ke depan. Perhatian para pecinta si kulit bundar akan tertuju pada penampilan: Lionel Messi, Ronaldo, Robinho, Rooney, dan sederet bintang lain yang bermain untuk membela negaranya masing-masing. Lalu, apa yang akan dibawa para jurnalis sepakbola kita selain laptop, kamera, dan peralatan jurnalisitik lain, disamping barang-barang kehidupan sehari-hari, akomodasi, dan biaya hidup untuk meliput kesana? Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar.

Tujuan peliputan sepak-bola adalah hasil ramuan berita yang menarik perhatian pembacanya. Bukan tidak mungkin untuk tujuan tersebut jurnalis sepakbola menggunakan kata-kata sensasional seperti: menghabisi, menggilas, memecundangi, menghancurkan, bertekuk lutut daripada kata-kata menyerah atau mengalahkan saja.

Kebablasan mencomot kata-kata dapat saja terjadi setiap saat apalagi bila harus mengejar deadline. “Penjaga gawang Edwin Van Der Sar berjibaku menyelamatkan gawangnya agar tetap perawan sampai menit terakhir usai,” “Ronaldo berhasil memetik gol ketiga bagi kemenangan Portugal.” Kata-kata perawan dan memetik memang telah menengarai makna asosiatif sebagai pembenaran kalimat. Meskipun sebenarnya pembenaran disini kurang tepat dan agak sembrono.

Menggali kata-kata atau kalimat yang lebih santun dan bagus adalah problem utama para jurnalis Sepakbola.Counter-Attack, tidakkah lebih bagus dari serangan balasan. Clean sheet dan perawan, tidakkah lebih santun dari belum kebobolan. Memberikan umpan terobosan, menggunting langkah, menggetarkan jala, penguasaan bola (ball possession), mengungguli (leading), mengecoh bek kanan, akan sangat Indonesiana banget mencerminkan rasa bangga.

Meski di Indonesia permasalahan sepakbola tidak terlepas dari kerusuhan dan bentrok antar pendukung, jurnalis sepakbola kita semestinya tidak ikut-ikutan terjerumus atau bahkan terjebak dengan sajian-sajian yang tidak berimbang. Bagi tim kesebelasannya sendiri dipuja habis-habisan dengan kata-kata tangguh, prima, unggul, pelatihnya bertangan dingin. Tapi, untuk tim kesebelasan lawan digerutui dengan penampilan yang jelek..lah, miskin pengalaman…lah, kalah telak..lah. Padahal meski menang 2-0 pun diberitakan, berhasil mengganyang dengan mempermalukan sangat fair-play?? Aduuuhhhh…….

sumber http://edukasi.kompasiana.com/2010/04/27/jurnalis-sepak-bola-menggocek-berita/





Ripiu comments powered by Disqus



Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer