Krisis Politik Thailand Hotel di Bangkok Evakuasi Tamu
komentar
BANGKOK - Pengelola hotel di kawasan perempatan Ratchaprasong, Bangkok, akhirnya 'menyerah' pada demonstran anti-pemerintah. Mereka memutuskan mengevakuasi tamu karena tidak bisa menjamin keselamatan.
Aksi protes yang dilakukan pendukung mantan Perdana Menteri (PM) Thaksin Shinawatra mulai membuat industri perhotelan Thailand lumpuh. Beberapa hotel mewah dan kelas dunia yang berada di negara tersebut memutuskan untuk mengevakuasi tamunya karena takut terjadi kerusuhan antara pro-Thaksin dengan pihak keamanan.
Pihak hotel memutuskan untuk tidak menerima reservasi hingga Senin depan. "Situasi di sini sangat tidak kondusif. Kami mengevakuasi tamu ke hotel lain demi keamanan mereka," tutur Patty Lerdwittayaskul, juru bicara Grand Hyatt.
Dievakuasinya tamu serta tutupnya beberapa hotel ini dipercaya bakal semakin memperburuk citra Thailand yang sudah terpuruk oleh aksi demo selama tiga tahun terakhir. Penutupan hotel juga akan berimbas besar pada dunia pariwisata yang menyumbang 6% pendapatan negari gajah putih.
Di hari-hari biasa, hunian hotel mencapai 60-70% tapi sejak ada demo anti pemerintah, angkanya terus menurun hingga mencapai 30%. "Tidak ada lagi 'Land of Smiles' (julukan Thailand), imej itu sudah rusak.
Turis kini takut karena di mana-mana melihat tentara membawa senjata. Mereka tidak percaya Thailand lagi," ucap Apichart Sankary, salah satu perwakilan Federasi Asosiasi Turis Thailand.
Banyak tamu hotel yang sebenarnya tidak keberatan dengan keberadaan pendukung Thaksin di sekitar hotel.
Namun, pengelola hotel merasa tidak bisa memberi jaminan keamanan bila terjadi bentrok besar-besaran antara demonstran-militer. Selain itu, keberadaan demonstran juga membuat lingkungan hotel tidak lagi kondusif serta nyaman.
Four Seasons mendapat persoalan serius karena di dekat hotel mereka ada 30 toilet portable yang digunakan demonstran dan menyebarkan bau tidak sedap. Seperti hotel-hotel lainnya, Four Seasons memasang barikade baja untuk menghalangi massa agar tidak mendekati mendekati hotel.
"Sedikit bising tapi demonstran sangat baik. Mereka mengizinkan taksi keluar masuk. Saya yakin semuanya akan aman-aman saja," papar salah satu tamu hotel dari Mesir Walid Moustafa.
Grand Hyatt, Four Seasons ataupun Intercontinental merupakan hotel-hotel mewah yang terletak di perempatan Ratchaprasong.
Perempatan yang menghubungkan distrik bisnis dan keuangan di Bangkok tersebut kini menjadi markas baru bagi pro-Thaksin atau juga dikenal dengan Red Shirt (Red Shirts). Sejak sabtu (18/4), pro-Thaksin memang memindahkan markas dan target aksi mereka di sana.
Langkah ini diambil setelah aksi protes di pusat-pusat pemerintahan seperti Gedung Parlemen gagal. Dengan menguasai Ratchaprasong yang menjadi denyut nadi ekonomi Thailand, pro-Thaksin yakin demo mereka akan jauh efektif.
Cara baru ini memang terbukti efektif menggoyang perekonomian Thailand. Harga saham indeks Thailand dilaporkan terus menurun. Pusat-pusat perbelanjaan di kawasan Ratchaprasong juga memilih tutup.
Jika pusat-pusat perbelanjaan itu terus menerus menutup tokonya dalam 30 hari ke depan maka proyeksi pendapatan Thailand diperkirakan bakal terpotong 10%. Kemarin, pro-Thaksin atau lebih dikenal sebagai Red Shirt (Kaus Merah) memperketat barikade markas mereka dengan menggunakan bamboo, ban, batu serta benda-benda lain.
Markas mereka kini berubah seperti menjadi 'kota mini' di mana semua penunjang hidup ada di sana dari outlet makanan, hiburan, tempat mandi hingga tempat karaoke. Sementara itu, pemimpin Alinasi Rakyat untuk Demokrasi (PAD) Chamlong Srimuang kembali mengingatkan pemerintah untuk mengambil tindakan tegas.
PAD yang dekat dengan pemerintah ini mengatakan PM Abhisit Vejjajiva tidak memiliki pilihan selain menggunakan aturan keras atau membiarkan perang sipil terjadi. "Saya harus menegur pemerintah karena gagal mengambil langkah yang benar. Sepertinya mereka menunggu perang sipil terjadi," ujar nya.
Untuk meredam aksi demosntran, Abhisit kembali membuka pintunya untuk berdialog. Juru bicara pemerintah Panitan Watanayagorn mengatakan Abhisit siap menggelar demo asalkan Red Shirt sepakat mengurangi ketegangan politik di negeri itu.
"PM bersedia duduk dan membicarakan ini," ucapnya. Namun, sikap Abhisit ini diabaikan Red Shirt. Mereka memilih untuk berdialog melalui pihak ketiga guna mencegah pertumpahan darah.
"Kami siap berdiskusi untuk mengakhiri krisis politik ini tapi bukan dengan pemerintah," ujar salah seorang ketua Red Shirt Jaran Ditapichai. (Koran SI/Koran SI/maesaroh)
sumber http://international.okezone.com/read...
Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer


