Si Kabayan, Sebuah Kesalahan Persepsi

  komentar


Saat "Kabayan Jadi Milyuner" (produksi Starvision) beredar, ternyata banyak kecaman dan nada sumbang yang timbul. Namun penyuara nada-nada sumbang dan pengecam tersebut tidak tahu apa sebenarnya yang salah dari fim yang diklaim sebagai "AFTER 21 YEARS THE LEGEND IS BACK!" tersebut. Bagi anak-anak sekarang hanya terucap: ?lebai?, ?garing? atau "norak".

 Bagi penulisnya, Cassandra Massardi, Kabayan hanya sosok tokoh pintar-pintar bodoh dan selalu beruntung dengan mencoba menggabungkan kisah-kisah dari film Kabayan di masa lalu (yang kebetulan merupakan produksi Starvision juga). Hasilnya,  kisah ?Kabayan Jadi Milyuner? seringkali terasa melompat antara satu adegan dengan adegan yang lain. Dengan durasi film kira-kira sepanjang 100 menit,  jalan cerita film ini terkesan absurd, terasa dipanjang-panjangkan dan tidak jelas kemana arah dan tujuannya.

Saya tidak hendak menambah satu bintang buruk dengan ikut berpolemik atas film tersebut. Saya hanya ingin mencoba mengulas lebih dalam sosok Si Kabayan ini agar di lain hari, akan lahir sinema ?Si Kabayan? dengan pakem yang sebenarnya. Karena kebetulan saya adalah penulis "Mr. Kabayan" (13 episode) yang ditayangkan di Laviti (TVOne, skr) pada tahun 2002 dan kebetulan diproduksi oleh PH yang sama, Starvision. Alhamdulillah, Kabayan yang diperankan oleh Ferry Maryadi ini cukup sukses mendulang ratimg dan pujian.

Latar belakang Budaya Si Kabayan

Sebenarnya Jawa Barat mengalami jaman kerajaan Hinduistik yang cukup besar sebanyak dua kali, yaitu: Kerajaan Galuh di daerah Ciamis dan Kerajaan Pajajaran di daerah Bogor. Namun bagi masyarakat perdesaan, kenangan terhadap zaman kebudayaan Hindunya amat tipis, bahkan diantaranya tidak mengenal zaman seperti itu. Mereka percaya bahwa agama Islam itu sudah ada sejak awal Sunda ada.

Penyebabnya kesadaran global masyarakat Jawa Barat tersebut adalah ketidakharmonisan hubungan antara masyarakat kerajaan (Hinduistik) dan masyarakat perdesaan serta munculnya kerajaan-kerajaan Islam yang di Jawa Barat. Kerajaan-kerajaan itu (Banten dan Cirebon) tidak melanjutkan tradisi istana-istana sebelumnya.

Inilah sebabnya kenapa cerita-cerita rakyat Sunda amat kuat kesan keislamannya. Meskipun dalam cerita-cerita rakyat dikenal nama-nama dewa dan bhatara yang kehindu-hinduan, namun tidak dalam pemahaman bahwa itu berdasarkan agama Hindu-Buddha, tetapi Sunda semata-mata. Di kalangan rakyat jelata, zaman Hindu itu adalah Sunda.

Tipisnya pengaruh tradisi budaya istana di kalangan rakyat pedesaan Jawa Barat ini menaikkan tradisi budaya lisan selalu auditif (tutur tinular). Karena sifatnya auditif maka budaya ini hanya berkembang di kelompok komunitas terbatas. Dengan demikian sifat auditif mengembangkan relasi kekeluargaan (gemeinschaft), harmoni, partisipasi, menekankan kekonkretan dalam bentuknya yang sederhana. Komunikasi lisan semacam itu cenderung menyampaikan pesan-pesan komunal melalui bentuk cerita-cerita.

Cerita-cerita rakyat di Jawa Barat ini amat kaya isinya, seperti: mitos, siluman, legenda, kehidupan rakyat sehari-hari, dan dongeng binatang. Sedangkan cerita kehidupan rakyat sehari-hari banyak bersifat lokal, namun juga sering diadaptasi dari luar, adalah Si Kabayan.

Sementara itu, Kabayan (Ka-bayyan) sebenarnya adalah sebutan untuk beberapa tokoh muslim di sekitar wilayah Banten Selatan, yang secara kebetulan mereka memeluk agama Islam tidak melalui "pakem" jalur Wali Sanga. Mereka memeluk Islam bersumber pada penyebar ajaran Islam dari lingkungan elit kerajaan Pajajaran. Para penyebar ajaran Islam ini sering berdagang ke berbagai tempat termasuk ke Mekah dan mengetahui dinul Islam langsung dari asalnya.

Di sisi lain, ?Bayyan? berasal dari kosa kata Arab yang secara umum dapat diartikan sebagai "bukti kebenaran". Dan istilah Ka-bayan itu berati: Berlaku "Tabayyun" demi mencetuskan Bukti-bukti Kebenaran tentang berbagai hal objektif yang diusung dalam pengamalan "Silmi Kaaffah? oleh kaum muslimin.

Salah satu contoh: dalam ajaran "Silmi Kaaffah" tak ada praktek feodalisme dalam munakahat yang dijalani setiap muslim dan muslimat. Maka sosok Kabayan ini akan bertabayyun untuk mencetuskan kebenaran tentang egaliteriansime masyarakat madanni ala Madinah dalam pola interaksi hirup kumbuh antar sesama muslim dan muslimat di tanah Sunda; hingga akhirnya sosok Kabayan ini berani menggugat feodalisme yang diusung dalam ajaran Sufisme Jawa karena bertentangan dengan egaliterianisme masyarakat Madani ala madinah.

Tapi pada perkembangannya, kenapa kemudian kita semua kemudian mengenal sosok Kabayan ini  sebagai tokoh lucu,  pandir, kurang ajar dan pemalas?

Banyak orang menyamakan tokoh dongeng Kabayan dengan Abu Nawas. Lalu siapakah Abu Nawas itu sendiri? Dari beberapa literatur kita akaan tahu kalau Abu Nawas itu sejatinya adalah seorang tokoh sastrawan besar bernama Abu Hani Muhammad bin Hakami  yang di akhir hayatnya menjadi seorang ulama sufisme.

Lantas kenapa kebanyakan kita mengenalnya sebagai tokoh sufi yang lucu dan pandir? Fenomena Abu Nawas dan Kabayan adalah senasib, yaitu sama-sama dibunuh karakter pemberi bukti nyata tentang kebenaran dinul Islam karena orang-orang di jamannya tak mau tahu dan "sombong" atas segala sindiran halus dan kasar yang ditempuh oleh Abu Nawas dan Si Kabayan.

Itulah sebabnya, kalau kita perhatikan dengan seksama, Kabayan akan menjadi tokoh bodoh jika berhubungan dengan nilai-nilai rohaniah, sedangkan menjadi tokoh pintar jika berhubungan dengan manusia lain.

Si Kabayan adalah tokoh paradoks yang membangun cerita-cerita paradoks pula. Tokoh demikian itu jelas muncul dari pemikiran mendalam seorang (atau beberapa orang) intelektual. Bobot sastrawinya amat tinggi. Meskipun diceritakan secara lisan, sehingga banyak ditambah dan dikurangi sesuai dengan perubahan masyarakatnya, namun inti pesannya masih amat jelas. Bahkan kita dapat merekonstruksi bentuk aslinya.


Dokumentasi Si Kabayan

Dr. Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936) boleh jadi adalah orang pertama yang mengumpulkan kisahnya. Pada tanggal 15 Juli 1889, Snouck bersama dengan Haji Hasan Mustapa (penghulu besar Bandung, 1893-1916) yang dikenalnya di Mekah pada 1885, berkeliling Pulau Jawa untuk meneliti aspek-aspek kehidupan Islam dan cerita rakyat. Pertama-tama mereka pergi ke Sukabumi, lalu Bandung, Garut, Calincing, Cirebon, dan seterusnya (Snouck Hurgronje dan Islam, 1989: 205-206).

Salah satu hasil dari perjalanan itu, Snouck mengumpulkan dongeng-dongeng Si Kabayan. Peninggalannya dapat dilihat di perpustakaan Universitas Leiden. Edi S. Ekadjati, dkk. (Naskah Sunda, 1988) pernah mendatanya. Perinciannya, Judul Naskah Kumpulan Cerita (nomor kode naskah LOr.7667), Dongeng Kabayan (LOr. 7676), Dongeng-Dongeng Kabayan (LOr. 7691), dan Cerita Kabayan (LOr. 7694).

Atas hasil kerja Snouck, Paul Hambruch memasukkan dongeng-dongeng Si Kabayan ke dalam bukunya ?Malaiische M?rchen: Aus Madagaskar und Insulinde? (1927). Selain Hambruch, istri Dirk Coster (1889- 1950) fisikawan Belanda yang turut menemukan unsur kimia Hafnium (Hf), Lina Maria-Coster Wijsman, memanfaatkan data itu menjadi disertasi doktoralnya.

Wijsman memberi judul disertasinya "Uilespiegel verhalen in Indonesie: in het Bizonder in de Soendalande". Edisi Indonesianya diterjemahkan oleh Koesalah Soebagyo Toer menjadi "Si Kabayan: Cerita Lucu di Indonesia Terutama di Tanah Sunda" (Terbitan PT Pustaka Jaya bekerja sama dengan lembaga ilmiah Belanda, Koninlijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde [KITLV-Jakarta], Desember 2008).

Disertasi yang berhasil dipertahankan di Universitas Leiden, Belanda pada Jumat, pukul 16.00, 7 Juni 1929, itu mencatat dan meringkas 134 dongeng Si Kabayan yang dikumpulkan Snouck. Ditambah dari R.A. Kern, dan R. Satjadibrata. Sementara itu, teks utuh berbahasa Sunda yang berisi dongeng-dongeng Si Kabayan hanya disajikan 80 dongeng, seperti yang dapat kita baca dari bab kedua buku tersebut.

Pada tahun 1911 terbit ?Pariboga: Salawe Dongeng-Dongeng Soenda?. Buku ini disusun oleh Cornelis Marinus Pleyte dan diterbitkan oleh Kantor Tjitak Goepernemen. Ada yang menganggap, inilah buku pertama yang memuatkan cerita Si Kabayan.

Berikutnya, 21 tahun kemudian, pada tahun 1932, Balai Pustaka menerbitkan buku ?Si Kabajan?. Buku ini disusun berdasarkan dongeng-dongeng yang ada dalam penelitian Maria-Coster Wijsman. Entah apa alasannya, dongeng-dongeng dalam disertasi terdahulu itu dipilih lagi. Beberapa dongeng yang berbau seks kemudian dibuang.

Pada tahun yang sama, terbit ?Si Kabajan Djadi Doekoen? karya Moh. Ambri. Karya ini dianggap sebagai saduran dari salah satu naskah drama karya Moliere, ?Le Medicin Malgre Lui?. Menginjak tahun 1941, hanya ada satu judul buku yang terbit mengenai Si Kabayan. Buku berjudul ?Kabajan? itu disusun oleh W.H. Rassers dalam bahasa Belanda.

Selanjutnya Utuy T. Sontani menulis drama ?Si Kabayan? dalam bahasa Indonesia dan bukunya diterbitkan pada tahun 1959. Naskah yang sama diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia, menjadi ?Si Kabaian? (1960). Sembilan tahun kemudian, kisah ini diterbitkan dalam bahasa Inggris dan disatukan bersama karya pengarang lainnya dari negara luar dalam ?Three SE Asian Plays?, yang merupakan suplemen dari berkala Tenggara.

Yang penting dicatat, pada tahun '60-an itu paling tidak ada lima karya Min Resmana yang berkaitan dengan kisah-kisah Si Kabayan. Karya-karya yang dimaksud adalah ?Si Kabajan Pangantenan? (1966), ?Si Kabajan Kasurupan? (1966), ?Si Kabajan Ngandjang Kapageto? (1966), ?Si Kabajan Djeung Raja Manaboa? (1966), dan ?Si Kabajan Tapa? (1967). Sementara itu sastrawan senior Sunda, MA. Salmun, menerbitkan ?Si Kabajan Moderen? (1965).

Pada era 1970-an, hanya dua judul buku yang tercatat yang kembali menghidupkan Si Kabayan. Pertama, ?Tales of Si Kabayan? yang disusun oleh Murtagh Murphy dan diterbitkan oleh Oxford University Press, pada 1975. Yang kedua, ?Si Kabayan dan Beberapa Dongeng Sunda Lainnya? (1977) karya Ajip Rosidi.

Era 1980-an ada sekitar lima judul yang terbit. Dua di antaranya karangan MO Koesman, yaitu ?Si Kabayan? (1980) dan ?Si Kabayan Ngalalana? (1982). Sementara itu Adang S. menulis ?Juragan Kabayan? pada 1986. Lainnya, ?Lebe Kabayan? (1986) karya Ahmad Bakri dan ?Si Kabayan Tapa? (1986) karya Min Resmana.

Pada tahun (1990), Si Kabayan ?meninggal? dunia. Karena itu terbit ?Jurig Kabayan? karya Tini Kartini. Akan tetapi, pada 1997 Si Kabayan dihidupkan lagi lewat ?Si Kabayan Manusia Lucu? buah tangan Achdiat K. Mihardja. Di tempat lain, tepatnya dalam buku ?Asian Tales and Tellers? (1998) susunan Cathy Spagnoli, Si Kabayan pun muncul. Tak ketinggalan, Gerdi W.K. juga ikut menghidupkan kembali ?Si Kabayan? (1999).

Memasuki era tahun 2000-an, buku-buku mengenai Si Kabayan pun tetap bermunculan. Bisa disebutkan, ?Si Kabayan-Cerita dari Sunda? (2000) karya Citra, ?Kabayan Bikin Ulah? (2002) dan ?Si Kabayan Jadi Sufi? (2003) susunan Yus R. Ismail, serta ?Si Kabayan? (2004) karangan Mulyani S. Yeni. Kemudian, ?Si Kabayan Digugat? (2004) karya Yuliadi Soekardi & U Usyahuddin, ?Si Kabayan Nongol di Zaman Jepang? (2005) susunan Achdiat K. Mihardja, dan, yang terakhir, ?Si Kabayan Jadi Wartawan? (2005) karya Muhtar Ibn Thalab.

Pendapat Mengenai Si Kabayan

Berdasarkan catatan Sutaarga (1965), ada beberapa pendapat atau penelitian yang telah dilakukan baik oleh kaum kolonialis maupun pribumi terkait dengan Si Kabayan. Pertama, tentu saja yang dilakukan oleh Ny. Maria Coster Wijsman (1929) yang memperbandingkan keberadaan Si Kabayan dengan siklus tokoh cerita rakyat Eropa, Tijl Uilenspiegel.

Wijsman mengartikan Kabayan sebagai semacam pamong desa yang bertugas menyampaikan berita. Istilah tersebut masih dipakai di daerah Jawa dan Tanganan Pangringsingan. Ia juga menghubungkan istilah tersebut dengan orang yang biasa memimpin acara kenduri dalam tokoh-tokoh cerita Melayu.

Sementara itu Prof. Berg meneliti arti kabayan dari sisi etimologinya. Menurut Berg, kata kabayan berasal dari bahasa Sanskerta, bhaya yang artinya takut. Hal ini sesuai dengan gambaran Kabayan versi Tanganan Pangrisingan yang harus memiliki sifat "magis". Kedua, istilah kabayan diambil dari kata dasar bay yang berarti wanita. Hal mana sesuai dengan nama Ken Bayan dalam cerita-cerita Panji.

Rassers (1941) menilai, Si Kabayan adalah tokoh ambivalen. Selain sebagai penghubung dan pewarta dari Sang Pencipta Semesta, ia juga dinilai sebagai tokoh yang mewakili totalitas dan kekuatan masyarakat yang bersifat membangun tetapi juga meghambat. Ya, di dalam dirinya sifat ketuhanan dan demonis mewujud menjadi satu. Oleh karena itu, Rassers menganggap Si Kabayan sebagai pahlawan budaya sekaligus tukang tipu.

Kemudian Held (1951), yang memperbandingkan Si Kabayan dengan panakawan dari lakon-lakon wayang Jawa khususnya dari segi fungsi lelucon-leluconnya.

Dari tanah air, Utuy T. Sontani (1920-1979) ikut meneliti Si Kabayan. Pengarang ini pada tahun 1957 mengungkapkan bahwa Si Kabayan merupakan ?manusa anu geus teu nanaon ku nanaon?. Maksudnya, Si Kabayan telah menjelma menjadi manusia yang terlepas dari beragam rasa yang bisa memengaruhi manusia. Artinya, ia telah menjadi ubermensch, istilah Nietzsche. Walaupun begitu, dalam naskah dramanya Utuy menggambarkan Si Kabayan sebagai dukun yang dianggap sakti, padahal ia hanya mempermainkan pasien-pasiennya.

Sementara itu, Ajip Rosidi (1964) berpendapat bahwa di balik kisah Si Kabayan terkandung maksud tertentu. Menurut Ajip, Si Kabayan bukanlah orang yang bodoh, sebab banyak cerita-cerita Si Kabayan yang sering mempermainkan mertuanya serta Kiai. Kiai tersebut bisa jadi personifikasi ulama, sedangkan Si Kabayan merupakan personifikasi orang Sunda. Dan Islam masuk ke Tatar Sunda setelah runtuhnya kerajaan Sunda. Ya, dengan demikian sastrawan Sunda yang menciptakan cerita Si Kabayan sebenarnya sedang menyampaikan kritik melalui jalan yang halus berupa lelucon.

Dalam seminar yang bertajuk ?Seks, Teks, Konteks: Tubuh dan Seksualitas dalam Wacana Lokal dan Global? (23-24 April 2004) lewat makalahnya yang berjudul ?Si Kabayan: Cawokah atau Jorang??, Ayatrohaedi menitikberatkan perhatiannya pada cerita-cerita Si Kabayan yang berbau seks.

Bisa dimengerti, Ayatrohaedi mendasarkan tulisannya pada buku Maria-Coster Wijsman, ?Tijl Uilenspiegel verhalen in Indonesie in het Bizonder in de Soendalande? yang memang banyak memuat kisah-kisah Si Kabayan yang berbau seks.

Menurut Ayat, "dari sekitar 80 kisah Si Kabayan yang dijadikan bahan disertasi Coster-Wijsman, terdapat 24 kisah yang berkenaan dengan seks. Kisah-kisah itu mengandung kata-kata "tabu", walaupun sekali lagi ternyata tidak menimbulkan kesan erotis. Jika dikaitkan dengan teks dan konteks, akan dengan mudah dipahami mengapa hal itu terjadi."

Sementara Jakob Sumardjo (2003) menilai Si Kabayan dari aspek primordialisme orang Sunda. Ia menilai bahwa "Si Kabayan berwatak paradoks, pintar, dan bodoh sekaligus. Ia pintar kalau kepentingannya sendiri terganggu, tetapi ia bodoh kalau sedang dikuasai oleh nafsu-nafsunya. Ini menunjukkan kewajaran orang Sunda untuk mentertawakan dirinya sendiri, kelemahan diri, dan kelemahan manusia umumnya."

?Di mana orang Sunda berkumpul,? kata Jakob, ?di situ ada tertawa. Rupanya humor berhubungan juga dengan masalah ?dalam?. Sasaran humor adalah mereka yang sudah dimasukkan sebagai bagian dari lingkungan sendiri."

Sedangkan Bambang Q Anees (2002) berpendapat bahwa Si Kabayan merupakan tokoh fiksi yang diciptakan sebagai penghibur atawa kurir filosofi hidup orang Sunda. Si Kabayan sebagai kurir berfungsi sebagai metafor: menyampaikan sekaligus mereduksi pesan.

Kemudian menurut Bambang, "Tetawalah yang menjadi inti dari sosok Si Kabayan." Kemudian ia pun mempertautkan Si Kabayan dengan konsep pencerahan ala Tao. Dari sisi ini, "tertawa" dimaknai sebagai "penemuan kepahaman akan suatu lelucon secara begitu cepat. Pada saat itu kita seperti menemukan rantai kebenaran yang selama ini terlepas." Nah, pada titik inilah, menurut Bambang, "Kabayan memainkan dirinya sebagai pemancing ketawa demi pencerahan tertentu."

Penutup

Dengan berkembangnya dunia telekomunikasi, maka berkembang pula cerita Si Kabayan yang jenaka ini. Dari sebuah pantun, Si Kabayanpun berubah menjadi prosa yang merambah dunia pertunjukan sandiwara/teater, sinetron atau film.   

Namun permata itu tetap permata, meskipun berada di mulut kerbau. Dengan mudah kita dapat memilih mana Si Kabayan yang autentik dan mana Si Kabayan artifisial.

 

Dan untuk menulis cerita Si Kabayan yang baru diperlukan dasar pengetahuan filsafat, bukan sekadar menulis cerita. Cerita Si Kabayan itu memiliki dasar pandangan mistisisme dan laku mistis itu memang penuh paradoks.

 

(St. Ahmad Idrus JM, dari berbagai sumber)





Ripiu comments powered by Disqus



Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer