SALAH ASUHAN versi BELANDA
komentar
Dicekalnya novel Salah Asuhan karena di mata pemerintah Belanda, kisahnya kontroversial. Corie (tokoh perempuan Belanda) yang digambarkan menggabarkan unsur " negatif" yang bisa menyudutkan pemerintahan Belanda (kala itu di tanah air, sebagai penguasa). Jika novel ini tetap dikeluarkan, akan memicu kritikan yang sulit untuk diatasi oleh Komisi Bacaan Rakyat (dalam perkembangannya Komisi Bacaan Rakyat menjadi Balai Pustaka).
Desakan Balai Pustaka dan Abdoel Moeis agar novelnya diterbitkan, menyebabkan ia setuju untuk menulis ulang Salah Asuhan terutama pada Hanafi dan Corie yang menjadi pusat seluruh cerita.
Jika semula diceritakan kalau Corie adalah wanita Belanda ini menikah dengan Hanafi (seorang pria pribumi). Coerie adalah wanita pesolek yang pergaulannya sangat bebas. Ia berani bermain dengan pria lain meski berstatus sebagai istri Hanafi. Akhirnya Corie diceraikan Hanafi, dan terjerumus dalam dunia prostitusi. Ia meninggal oleh pelanggannya sendiri yang merasa iri.
Sedangkan Salah Asuhan versi Belanda mengisahkan kalau Corie merupakan wanita yang baik-baik saja, dan meninggalnya pun sebagai wanita terhormat.
Dengan tingkat kebebasan dalam mengeluarkan pendapat yang serba terbatas kala itu, Abdoel Moeis menyiratkan maksudnya dengan sebuah karya yang bisa menjadi pembelajaran masyarakat tentang kesadaran berbangsa tanpa meninggalkan budaya bangsa.
Kini di era yang serba global, perwujudan kesadaran tentang budaya Nusantara dan berbangsa tentu bisa diungkapkan dalam bentuk yang berbeda dan beraneka cara tentunya! Tidak ada standar baku, tergantung kreatifitas kita. Masing-masing individu bisa mempunyai cara yang berbeda. Setuju bukan???
Sumber: http://id.shvoong/books/classic-literature/1961595-novel-asuhan-versi-belanda/
Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer


