SEBUAH CERITA TENTANG
komentar
Dua orang kakak beradik melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lain. Sepanjang perjalanan mereka berdua bertemu dengan berbagai macam orang. Di kota pertama, mereka bertemu dengan penggali sumur. Penggali itu ada di bawah sumur dan berharap ada seseorang yang mengulurkan tali dari atas karena talinya putus saat ia berusaha naik. Sang kakak meminta adiknya agar tetap berjalan, sementara sang adik merasa iba dengan teriakan minta tolong dari bawah sumur. Ia kembali menuju sumur yang dilewatinya dan membantu penggali sumur naik ke permukaan sumur.
Penggali sumur bersyukur. Ia berterimakasih kepada lelaki muda itu dan memberi imbalan sekantung air sebagai perbekalan lelaki muda. Lelaki itu menerimanya dan segera menyusul kakaknya yang berjalan mendahuluinya.
Di kota berikutnya, mereka bertemu dengan kafilah dagang yang berharap kakak beradik itu memberinya seteguk air. Sementara sang kakak tidak mau memberikan airnya. Adiknya malah memberi kafilah itu air, dan kafilah itu memberinya segenggam gandum sebagai imbalannya.
Sampai tiba di kota terakhir sebelum sampai di kota tujuannya. Mereka bertemu dengan seorang wanita pengemis berpenyakit kusta. Pengemis itu lapar. Dan sang adik memberinya segenggam gandum yang di berikan kafilah itu. Pengemis itu pun berterima kasih.
Setiba di kota tujuan keduanya memulai usaha mereka hingga menjadi saudagar kaya. Dagangan mereka menyilaukan para perampok. Hingga membuat perampok mengambil paksa barang dagangannya. Sang adik meninggal saat dia berusaha menasihati perampok itu agar mau berusaha. Sedang kakaknya melarikan diri. Ia meninggalkan kota itu dan kembali ke kota asalnya dengan pakaian yang berlumuran darah.
Tiba di kota pertama, luka sang kakak membusuk. Ia tidak memiliki pakaian ganti dan akhirnya hanya duduk di sudut kota untuk meminta belas kasihan. Seorang wanita tiba disisinya. Ia menghampiri laki-laki itu hanya karena iba. Ia mengobati lukanya dan memberikannya sebuah jubah baru yang bersih sebagai ganti jubahnya yang berlumuran darah.
Kakak itu terkejut dan mengajukan pertanyaan. "Mengapa anda begitu peduli dengan saya?"
"Sudah menjadi kewajiban saya. Setahun yang lalu ada seorang laki-laki memberi saya jubah ini dengan segenggam gandum. Dari gandum itu setengahnya saya buat menjadi roti dan setengahnya lagi saya jual. Lalu saya gadaikan pula jubah ini. Akhirnya saya mendapatkan uang dan mengobati penyakit kusta saya. Hingga saya sehat dan bisa bekerja lagi. Saya berharap saya bisa bertemu dengan orang itu. tapi ternyata tidak. Ia mirip anda. Anda boleh memakai jubah ini. "
Sang kakak terenyuh.
Penggali sumur bersyukur. Ia berterimakasih kepada lelaki muda itu dan memberi imbalan sekantung air sebagai perbekalan lelaki muda. Lelaki itu menerimanya dan segera menyusul kakaknya yang berjalan mendahuluinya.
Di kota berikutnya, mereka bertemu dengan kafilah dagang yang berharap kakak beradik itu memberinya seteguk air. Sementara sang kakak tidak mau memberikan airnya. Adiknya malah memberi kafilah itu air, dan kafilah itu memberinya segenggam gandum sebagai imbalannya.
Sampai tiba di kota terakhir sebelum sampai di kota tujuannya. Mereka bertemu dengan seorang wanita pengemis berpenyakit kusta. Pengemis itu lapar. Dan sang adik memberinya segenggam gandum yang di berikan kafilah itu. Pengemis itu pun berterima kasih.
Setiba di kota tujuan keduanya memulai usaha mereka hingga menjadi saudagar kaya. Dagangan mereka menyilaukan para perampok. Hingga membuat perampok mengambil paksa barang dagangannya. Sang adik meninggal saat dia berusaha menasihati perampok itu agar mau berusaha. Sedang kakaknya melarikan diri. Ia meninggalkan kota itu dan kembali ke kota asalnya dengan pakaian yang berlumuran darah.
Tiba di kota pertama, luka sang kakak membusuk. Ia tidak memiliki pakaian ganti dan akhirnya hanya duduk di sudut kota untuk meminta belas kasihan. Seorang wanita tiba disisinya. Ia menghampiri laki-laki itu hanya karena iba. Ia mengobati lukanya dan memberikannya sebuah jubah baru yang bersih sebagai ganti jubahnya yang berlumuran darah.
Kakak itu terkejut dan mengajukan pertanyaan. "Mengapa anda begitu peduli dengan saya?"
"Sudah menjadi kewajiban saya. Setahun yang lalu ada seorang laki-laki memberi saya jubah ini dengan segenggam gandum. Dari gandum itu setengahnya saya buat menjadi roti dan setengahnya lagi saya jual. Lalu saya gadaikan pula jubah ini. Akhirnya saya mendapatkan uang dan mengobati penyakit kusta saya. Hingga saya sehat dan bisa bekerja lagi. Saya berharap saya bisa bertemu dengan orang itu. tapi ternyata tidak. Ia mirip anda. Anda boleh memakai jubah ini. "
Sang kakak terenyuh.
Begitu pun dengan kota selanjutnya sang kakak bertemu seorang saudagar dan hendak menggadaikan jubahnya. Dengan harapan bisa mendapatkan uang seperti wanita yang memberinya jubah itu.
Namun saudagar itu memperhatikan pemuda itu dan memberinya sepotong roti dari gandum miliknya.
"berapa yang harus saya bayar untuk semua ini?" "Tidak perlu. jubah yang anda kenakan mengingatkan saya pada lelaki yang memberi saya seteguk air saat matahari mungkin akan membuat saya tidak bisa sampai ke tempat tujuan. Saya ingin berjumpa dengannya ternyata tidak. Jubah yang Anda kenakan mirip dengan lelaki itu. Bawalah sekantung air ini. Mungkin ini akan berguna."
Sesampainya di kota tujuan. tiba-tiba tenggorokannya kering, Ia pun pingsan dan terbangun ketika seorang pria di sampingnya memberi seteguk air.
"Mengapa anda begitu baik?"
"Ini semua karena saudaramu," jawab lelaki itu.
"Saudaraku?"
"Ya, setahun yag lalu kau hanya melongoku daria ats saat aku meminta bantuanmu untuk naik dari sumur. Namun kau menolaknya, dan adikmu kembali untuk menolongku. lalu aku memberinya sekantung air. Aku semakin yakin, dengan kantong air yang kau bawa. Itu kantong air milikku. Dan jubah ini yang di kenakan adikmu dulu. Dimana ia sekarang?Aku ingin berterima kasih. Sumur yang ku buat kini sudah menjadi perkampungan kecil. Dan aku sebagai gubernurnya. Dimana saudaramu? aku tak akan melupakan kebaikannya."
Sang kakak terdiam. Tiba-tiba air matanya menitik saat mengingat adiknya yang telah meninggal dunia ketika seluruh hartanya dijarah perampok.
MORAL LESSON :
*Saat kita hidup kita sering mengharapkan UMUR YANG PANJANG. Namun umur yang panjang itu malah kita kosongkan dari amal-amal yang PANJANG. Sang kakak memiliki umur yang lebihpanjang dari sang adik. namun tidak lebih bermanfaat dari sang adik.
"BUATLAH HIDUPMU LEBIH BERMANFAAT. DENGAN AMAL-AMAL YANG AKAN SELAMANYA DIKENANG. BUKAN HIDUP YANG SIA-SIA YANG HANYA MENJADI KESULITAN BAGI ORANG-ORANG DI SEKITAR KITA!"
*Sumber : Buku Kamu bukan Bintang 10 Hal yang Menjadikanmu pecundang. RAGIL ROMLY.
Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer


