Soeharto, Seorang Jawa yang Mengingkari Kejawen

  komentar


Masa kanak-kanak Soeharto yang tak bahagia, nampaknya membuatnya menjadi pribadi yang lain.
- Ketika berumur 40 hari mesti diasuh kakeknya karena ibunya sakit.
- Saat berusia beberapa tahun, orang tuanya bercerai dan masing-masing menikah lagi.
- Iapun dititipkan pada adik perempuan ayahnya yang bersuamikan ayah daripengusaha Sudwikatmono.
- Sejumlah orang-orang yang mengasuhnya akan memberikan andil pada diri Soeharto dalam mengenal Ilmu Kejawen.

Berikut guru spiritual Soeharto (selain dari lingkungan keluarga):
1. Romo Marto Pangarso (dari Bantul-Yogyakarta).
Ialah yang dikenal sebagai guru spiritual Soeharto yang sebenarnya. Soeharto berhubungan dengan Marto tatkala memimpin BKR di Yogyakarta. Konon Marto kerap melakukan ritual di Candi Prambanan dan bisa membaca tanda-tanda.

Sejumlah syarat lelaku dari Marto yang terbilang berat pernah dilakukan Soeharto untuk memenuhi ramalannya, seperti bersemedi di Gua Srandil (Cilacap).

Marto meninggal di tahun 1980. Sebelum meninggalnya Marto, Soeharto sempat membangunkan Padepokan Sendang Semanggi Kasihan Bantul (tempat Marto mengumpulkan pengikutnya dari pelosok Jawa, setiap 35 hari).

2. Romo Diat dari Semarang
Dukun ini kerap menginjakkan Istana Negara (lain dengan Marto yang tak pernah ke Istana Negara). Selain memberikan nasehat spiritual, ia juga memberikan perlindungan ghaib untuk kediaman keluarga Cendana maupun di Istana Negara.

3. Soedjono Hoemardhani
Konon dialah yang mengatur hari atau apa saja yang harus dilakukan dan diperbuat keluarga Cendana jika mereka ingin selamat.
- Soedjono pernah memelopori pemberlakuan Ketetapan MPR menyangkut aliran kepercayaan yang menghebohkan di jamannya.
- Ki Ageng Selo mengaku di tahun 1970 pernah diperintahkan menanam bunga Wijaya kusuma yang diambil Soedjono dari P. Nusakambangan. Tujuannya agar Soeharto terpilih menjadi Presiden.

4. Soedjarwo-merupakan kerabat Ibu Tien dari Mangkunegara.

5. Darundrio, dikenal ahli kanuragan-membuat tubuh kebal senjata tajam.
Kerap diminta keluarga Cendana untuk upacara spiritual kejawen.

6. Mbah Diran-dari Jakarta Pusat.
Dikenal sebagai pawang hujan. Jasanya sering digunakan mbak Tutut untuk proyek jalan tolnya.

7. Sejumlah dukun atau penasehat spiritual yang mengelilingi Soeharto, selama ini tidak pernah jelas. Namun Ki Ageng Selo pernah menyebut tak kurang dari 50 orang.

Perubahan Soeharto terjadi semenjak:
- Marto, Diat, Soedjono satu per satu meninggal. Puncaknya ketika Ibu Tien meninggal.
- Sejumlah paranormal Jawa melihat sejak perekonomian Indonesia mulai tumbuh.
- Soeharto mulai menumpuk kekayaan. Saat itulah Sri Sultan Hameng Kubuwono IX, melihat Soeharto sudah melanggar ajaran Jawa. Sebagai bentuk protesnya ia menolak dicalonkan sebagai Wapres.

- Masyarakat juga merasakan penggusuran lahan terjadi dimana-mana. Tahun 1991, Proyek Kedung Ombo misalnya, telah membuat belasan ribu orang Jateng kehilangan rumah, tanah dan kuburan leluhur mereka. Padahal dalam konsep Jawa, kuburan adalah sesuatu yang sangat dihormati.

Pakar filsafat Jawa-Damarjati mengungkapkan bahwa Soeharto telah menerapkan filsafat Jawa yang salah.

Sementara Pakar filsafat Franz Magnis Suseno mengemukakan, menunjuk "manajemen kekuasaan" Soeharto selama ini "mengoper" pola kekuasaan Raja Jawa. Pola inilah yang membuat pembantunya "yes-men".

Merujuk survei terakhir yang menunjukkan bahwa Soeharto merupakan Presiden Paling Sukses dan Paling Disukai Publik, namun di sisi lain Soeharto juga menggunakan jasa guru spiritual ataupun dukun yang tidak sedikit seperti yang tersebut di atas.

Ada pertanyaan yang menyelinap dari saya, bisakah menjadi pemimpin-apalagi RI-1 tanpa jasa-jasa guru spiritual atau perdukunan ya?

Sumber:  http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2029527-soeharto-seorang-jawa-yang-mengingari/

Sumber gambar:  imronthebutchery.blogspot.com





Ripiu comments powered by Disqus



Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer