Warga Jakarta Ada Yang Tidak Mandi 3 Hari
komentar
JAKARTA (Pos Kota) – Krisis air bersih semakin meluas ke seluruh wilayah Ibukota. Ratusan ribu warga Jakarta sengsara akibat langkanya air.
Hingga hari ini, PT Palyja dan PT Aetra Air Jakarta, dua operator yang mengelola air bersih di Ibukoka, belum mampu menyuplai air memenuhi kebutuhan pelanggannya. Kemampuan menyuplai air bersih (PAM) baru mencapai 40 persen dari 700 ribu total pelanggan di DKI.
Berbagai kecaman pun disampaikan warga berkaitan dengan langkanya air bersih. “Berhari-hari hidup tanpa air, seperti di neraka saja,” umpat Ny Sri, warga Sunter Jakarta Utara, Kamis (6/5). Sementara Cecev, anggota Dewan Kota Jakarta Barat, yang berdomisili di RW 05 Kelurahan Jembatan Lima, mengaku sudah 3 hari tidak mandi karena langkanya air. “Saya dan para tetangga hanya cuci muka menggunakan air keemasan,” ujar Cecev.
Tak hanya rumah tangga, sejumlah perkantoran di kawasan Jl. Gajah Mada, Hayam Wuruk, Kota, kelabakan. Terhentinya pasokan air PAM juga berpengaruh terhadap kegiatan usaha lainnya seperti WC umum, restoran, dan bagi umat muslim yang mengambil wudhu untuk salat.
SIAP GUGAT
Sejumlah warga pun berniat mengajukan gugatan class action terhadap PT Palyja dan PT Aetra Air Jakarta. M. Suli, 35, warga Tanjung Priok, Jakarta Utara setuju dengan usul tersebut. “Kami mulai berpikir untuk mengambil langkah gugatan kepada operator maupun pemerintah DKI. Warga sangat dirugikan, karena aktivitas kita terhambat gara-gara kekurangan air,” kata M. Suli, yang mengaku telah menyusun gugatan bersama warga lainnya dengan berkoordinasi dengan pengacara.
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Melalui Ketuanya, Huzna Zahir, mendesak penerapan Standar Pelayanan Minimum (SPM) harus segera dilakukan. Tidak ada alasan apapun yang membenarkan warga untuk memperoleh air. Pasalnya musim kemarau bukan hanya terjadi kali ini, tapi setiap tahun. Seharusnya situasi cuaca seperti ini telah diantisipasi.
“Jika memang mampu memberikan layanan lebih baik, tidak masalah pengelolaan air dikembalikan ke pemerintah,” tandasnya.
Mengenai adanya ancaman class action oleh masyarakat, Huzna menilai hal itu wajar. “Masyarakat memiliki kewenanangan untuk menuntut haknya,” tegas Huzna.
GUBERNUR HARUS BERTANGGUNG JAWAB
Ketua Komite Pelanggan Air Bersih (KPAM) DKI Jakarta, Drs. Sukarlan, membenarkan krisis air bersih sudah hampir merata di wilayah DKI Jakarta. ”Gubernur DKI Jakarta harus bertanggung jawab terhadap parahnya suplai air bersih dari PT Palyja dan PT Aetra Air Jakarta,”tegasnya.
Ia sudah banyak menerima keluhan dari pelanggan yang mencapai sedikitnya 700.000 pelanggan. Pihaknya sudah meminta bantuan kiriman air bersih melalui mobil tangki dari kedua PT tersebut.
Jika krisis air bersih tidak segera diatasi, konsumen di DKI Jakarta termasuk apartemen akan lebih menderita saat datangnya kemarau panjang. ”Gubernur DKI Jakarta harus mencari terobosan membuat jaringan instalasi air ke wilayah tangerang bahkan jika perlu menyuling air laut.”harapnya.
ENDAPAN LUMPUR
Di Balaikota, Dirut PT Perusahaan Air Minum (PAM) Jakarta Raya (Jaya), Haryadi Priyohutomo, menjelaskan krisis air baku yang sudah berlangsung selama dua minggu di Jakarta diakibatkan tidak berfungsinya pompa Curug karena endapan lumpur yang tinggi di depan pompa.
“Jadi pompanya baik-baik saja tapi tidak bisa berfungsi akibatnya suplay air baku ke Jakarta drop sampai 30-40%,” katanya. Menurutnya suplay air baku telah normal kemarin pagi. Namun ternyata kemarin juga terjadi mati listrik di instalasi pompa penjernihan air Pulo Gadung yang suplaynya 4000 liter/detik.
“Waktu terjadi krisis air baku dia hanya bisa masak 3.100 liter/detik. Lalu mati listrik berarti nol liter per detik,” terangnya. Setelah listrik menyala salah satu pompa distribusi Pulo Gadung jebol, sehingga pompa distribusi instalasi perjenihan air Pulo Gadung terendam air sampai tadi pagi. Sementara untuk mengatasi air mati saat ini PT PAM sudah meminta kepada pihak swasta untuk mengoptimalkan survival tanki. “Kan Palyja dan Aetra memiliki 70an truk tanki,” pungkasnya.
Josua L Tobing Coorporate Secretary PT Aetra Air Jakarta, mengakui, sekitar 40 Persen pelanggan PT Aetra tidak mendapat air bersih lantaran 6 mesin pompa di Pulo Gadung terendam air setinggi 8 meter.
Dari total 382.000 pelanggan yaitu 152.800 pelanggan baik di Jakarta Timur, sebagian Jakarta Utara dan sebagian Jakarta Pusat harus bersabar hingga kondisi normal dialiri air lancar dua hari kedepan. (guruh/wandi/herman/lina/ak/g/j)
Ripiu.com © 2010 Kreatifroom - Best View with All Major Browser except Internet Explorer


